Oleh: Thoriqul Aziz
Bulan Rabiul Awal merupakan salah satu bulan yang paling istimewa dalam agama Islam. Bulan ini begitu dimuliakan oleh sebagian penganut Islam. Karena pada bulan ini terdapat hari dimana baginda Nabi Muhammad saw dilahirkan ke dunia. Sebagian besar umat Islam mengklaim, Nabi saw lahir pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal dan bertepatan dengan tahun Gajah. Dinamakan demikian karena mayoritas umt Islam meyakini bahwa kelahiran Nabi saw bertepatan saat adanya penyerangan Ka'bah yang dipimpin oleh Raja Abrahah dengan mengendarai gajah.
Akan tetapi kemudian banyak para pakar sejarah yang mengungkap kembali sejarah kelahiran Nabi saw, pandangan hari, tanggal, dan tahun kelahiran berbeda dengan keyakinan mayoritas umat Islam di atas. Meski demikian, hal ini tidak mengurangi urgensi dalam merayakan hari kelahiran Nabi saw. Di Indonesia, perayaan tersebut sering disebut dengan Mauludan (Jawa: Mulutan). Bahasa tersebut diambil dari derifasi kata 'walid' yang bermakna kelahiran, dan yang dimaksud kelahiran disini ialah kelahiran Nabi saw.
Peringatan maulid Nabi saw sangat penting bagi kaum muslim. Karena ada beberapa hal yang dapat diambil hikmahnya, antara lain:
Menumbuhkan Jiwa Revolusi
Semua umat Islam tahu bahwa Nabi saw diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlaq. Hadis beliau berbunyi :"innama bu'istu li utammimma makarima al-akhlaq" (Sesungguhnya aku diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlaq).
Melihat hadis di atas, menjadi menarik untuk diulas kembali bagaimana situasi dan kondisi masyarakat Arab saat itu secara khusus, dan umumnya masyarakat dunia secara luas. Dalam berbagai sirah disebutkan bahwa kehidupan umat manusia dalam keadaan Jahiliyyah. Dunia Arab ketika itu penuh diliputi dengan kekafiran, kesyirikan, oerang antar suku, membunuh anak peeempuan yang baru lahir dan masih banyak tindak perilaku masyarakatnya yang jauh dari kata etis.
Situasi ini juga tidak jauh berbeda dengan di dunia Barat dan dunia Timur. Di dunia Barat misalnya yang terdapat imperium Besar Rumawi yang berada di Eropa (tepatnya di Italia) memiliki kekuasaan hingg Afrika bagian utara. Kehidupan disana diliputi dengan krisis kemanusiaan, sebagaimana terlihat adanya pembunuhan para budak secara besar-besaran yanh ada disana.
Hal yang sama juga terjadi di dunia Timur. Bagian ini dapat diwakili satu imperium yang menjadi tandingan imperium Rumawi di Barat, yaitu imperium Persia. Hukum yang dijalankan disana jauh dari kata adil, sehingga bentuk kezaliman terjadi dimana-mana. Hukum hanya berpihak pada penguasa dan orang-orang yang dekat dengan mereka.
Oleh karena situasi dan kondisi saat itulah Nabi saw diutus Allah ke dunia. Menurut Abbas al-Aqqad, hal-hal atau tanda-tanda di ataslah yang menjadi ciri utama dibutuhkannya seorang Nabi saw sebagai sang revolusioner. Di tangan beliaulah kemudian wajah dunia berubah 180 derajat menjadi kehidupan yang lebih baik. Thomas Hard, yang menulis Seratus Tokoh Orang yang Berpengaruh di Dunia membayangkan, apa jadinya jika dunia ini tidak diturunkan Nabi Muhammad. Yang pasti dunia tetap dalam keadaan jahiliyyah, bahkan lebih parah lagi. Dengan demikian, memperingati hari lahirnya Nabi saw diharapkan dapat menumbuhkan kembali sifat revolusi sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi saw saat itu.
Meneladani Sifat-Sifat Nabi
Ada sebuah riwayat yang mengatakan setelah wafatnya Nabi saw. bahwa ada salah seorang Badui bertanya pada sahabat Umar perihal akhlaq Nabi saw. Sahabat Umar menangis dan tidak bisa menjawab. Kemudian sang Badui bertanya pada sahabat Bilal, jawabannya pun sama dengan sahabat Umar. Akhirnya Badui tersebut bertanya pada sahabat Ali bin Abu Thalib, ia menjawab: "dapatkah kau menceritakan isi keindahan dunia ini?", Badui:"Bagaimana mungkin aku dapat menceritakannya". Kemudian sahabat Ali menimpali, “Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad SAW, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh 'Muhammad Memiliki Budi Pekerti Yang Agung".
Pada intinya, semua sahabat tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Karwna memang begitulah adanya. Akhlaq Nabi saw tidak dapat digambarkan dengan suatu apapun. Karena memang akhlaq beliau jauh dari kata sempurna, sebagaimana Allah yang memuji beliau dalam Alquran, "innaka la'ala khuluqin 'adhim". Melihat realita ini, sebagi seorang muslim yang memperingati maulid Nabi saw tidak hanya sebatas mengingat kelahirannya saja. Jauh dari itu, ada banyak pelajaran yang didapat dari esensi melaksanakan tradisi maulid yakni berharap dapat meneladani sifat-sifatnya yang menjadi suri teladan bagi semua umat manusia.
Perihal akhlaq Nabi saw ini tidak hanya diakui oleh mayoritas muslim saja, melainkan banyak juga sarjana non muslim yang mengakui akan akhlaq budi pekerti Rasulullah. Sebut saja seperti Karen Amstrong, Thomas Carlyl, Bernard Shaw, Mahatmagandhi yang memiliki kekaguman terhadap sosok Nabi Muhammad.
Tulungagung, 13 Nipember 2020
Komentar
Posting Komentar