Oleh: Thoriqul Aziz
Hamka merupakan nama pena dan lebih dikenal dari nama aslinya. Hamka, nama singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Beliau merupakan anak Minang yang lahir di Padang Panjang, Sumatra Barat. Beliau merupakan anak seorang modernis Sumatra, yaitu Haka (tanpa huruf "M") singkatan dari Haji Abdul Karim Amrullah yang mempunyai julukan Haji Rasul.
Malik, nama panggilan sewaktu kecilnya, tidak pernah menamatkan sekolah formal di sekolah dasar. Ia hanya berguru pada ayahnya dan beberapa guru agama di daerahnya. Transmisi intelektual Hamka paling banyak didapat dari otodidak. Iya, Hamka merupakan pembaca yang tangguh dalam setiap keadaan. Bahkan menurut pengakuan anaknya, sewaktu dirawat dirumah sakit akibat kelelahan ia masih tetap membaca. Ia baru meletakkan bukunya tatkala diminta dengan sangat oleh sang anak, karena sang anak khawatir dengan stamina ayahnya yang semakin melemah.
Meskipun tidak tamat sekolah dasar, namun Hamka dikenal sebagai seorang ulama, mufasir, cendekiawan, politikus, penulis, dan sastrawan karena banyaknya wawasan yang ia miliki. Sehingga seiring dengan banyaknya kemampuan tersebut, banyak gelar pula yang disandang Hamka. Ia mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar dan dari Universitas Kebangsaan Malaysia serta mendapat gelar Guru Besar dari Perguruan Tinggi Islam dan Universitas Islam Makasar.
Gelar-gelar tersebut didapat tidak terlepas dari kerja kerasnya dalam menuliskan kata-kata pada berbagai karya. semasa hidupnya Hamka telah melahirkan beragam karya tulis dalam bentuk buku di berbagai bidang yang mencapai puluhan buku. Di antara bidang tersebut seperti sejarah, kegamaan, dan sastra. Salah satu karya terpopulernya ialah Tafsir al-Azhar yang ditulis lengkap 30 Juz.
Menarik untuk sedikit diulas mengenai karya terpopulernya. Sesuai dengan judul tulisan ini, Hamka merupakan penulis yang tangguh. Ia tetap menulis dalam berbagai keadaan. Seperti dalam penulisan Tafsir al-Azhar itu misalnya, Hamka menyelesaikan penulisan tafsir tersebut di penjara.
Memang jika dilihat dari sejarahnya, Hamka dengan pemerintah Orde Lama pernah menyisakan hubungan yang tidak harmonis. Hamka dituduh menjadi seorang mata-mata yang hendak membunuh presiden kala itu (Ir. Soekarno). Dari tuduhan inilah kemudian Hamka ditahan dan dimasukkan di penjara selama beberapa bulan. Sebelmunya, ia menjadi tahanan kota, yang diasingkan di beberapa kota di Jawa Barat. Namun akhirnya ia terbebas, karena tuduhan itu tidak benar.
Pada masa-masa tersebutlah, Hamka diuji akan ketangguhannya. Meskipun dalam kondisi demikian Hamka tetap menjalankan profesinya sebagai seorang mualif (penulis). Pada masa itu pula ia dapat merampungkan Tafsir al-Azhar yang sebelumnya telah dimulai pada sesi pengajiannya di masjid depan rumahnya sendiri. Dinamakan Tafsir al-Azhar karena disesuaikan dengan nama masjid tersebut, dimana tempatnya mengisi ceramah tafsir itu. Demikian seorang Hamka yang menjadi seorang penulis tangguh yang dapat dijadikan sebagai teladan bagi kita semua.
#Kediri, 02 Oktober 2020
#JumahBerkah
#LiterasiParaKiai13
Kereen,, sangat menginspirasi dan memotivasi. Terimakasih
BalasHapussama sama
Hapus