Perlukah Meneladani Perilaku Nabi Secara Total??



Oleh: Thoriqul Aziz


Allah telah menetapkan Nabi saw sebagai khatam al-nabiyyin (penutup para nabi). Oleh karena itu, Allah telah lama merencanakan kedatangan beliau di dunia ini. Sebelum Allah menurunkan beliau, sudah terdapat tanda-tanda akan kehadirannya. Banyak pakar sejarah yang mengemukakan hal tersebut, mulai dari adanya peristiwa pasukan gajah yang dipimpin raja Abrahah dengan niat menghancurkan Ka'bah, atau dengan peristiwa-peristiwa lain tentangnya. Namun, yang pasti kehadiran Nabi saw ke dunia ini yang menjadi indikasi terkuatnya ialah karena kebutuhan akan dunia itu sendiri terhadap pribadi Nabi saw.


Dalam sejarah telah dicatat, di dunia Arab  saat itu sebelum diturunkannya Nabi saw dipenuhi dengan beragam perilaku masyarakatnya yang tidak 'manusiawi', sehingga zaman tersebut dijuluki dengan zaman jahiliyyah (kebodohan). Oleh karena itu, diutusnya Nabi saw kedunia ini tujuan utamanya hanya satu, menyempurnakan akhlaq manusia. Tidak dengan yang lainnya. 


Sudah barang tentu diturunkannya Nabi saw di dunia ini untuk menebarkan rahmat pada seluruh alam. Iya, seluruh alam, tidak hanya untuk manusia melainkan juga hewan, tumbuhan, dan alam semesta ini. Sudah menjadi kepastian, segala sesuatu yang keluar dari koridor 'rahmat' bisa dipastikan hal tersebut bukan dari ajarannya.


Selain itu, tujuan diturunkannya Nabi saw ke dunia ini sudah sangat jelas, yakni sebagai uswatun hasanah (suri tauladan yang baik). Nabi dijadikan oleh Allah sebagai contoh yang baik dalam berperilaku di dunia. Nabi lah yang menjadi panutan bagi umat manusia di dunia. Akhlaq Nabi saw sudah tidak diragukan lagi, Aisyah ra berkata bahwa akhlaq beliau adalah Alquran. Pengakuan tidak hanya datang dari masyarakat muslim, orientalis seperti Thomas Carlyle dan Michael Hart yang mengakui keagungan sikapnya.


Namun, sampai disini saya hendak mengatakan, bahwa tidak selamanya perilaku nabi dapat kita tiru, bahkan harus dijauhi. Dalam konteks ini, sebagai seorang muslim harus pandai-pandai dalam meniru perilaku Nabi saw. 


Setidaknya ada empat fungsi Nabi Muhammad, yaitu terkadang nabi dan rasul, terkadang sebagai mufti, terkadang sebagai hakim, sebagai pribadi yang tidak berkaitan dengan rasul dan nabi. Kita harus bisa memilah-milah posisi Nabi saw untuk dapat kita teladani perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.


Berkaitan dengan kerasulan dan kenabian, semua sepakat, segala perilakunya adalah benar dan wajib untuk diteladani. Sebagai seorang mufti, Nabi saw berbicara hanya untuk mereka-mereka sebagai pemberi fatwa, nabi sebagai hakim berkaitan dengan penegak hukum, dan terakhir nabi tidak berkedudukan sebagai nabi dan rasul sebagian dapat diteladani dan sebagian lain tidak harus bahkan dijauhi. Dari pembahasan ini, penulis hendak memaparkan lebih jauh poin yang terakhir.


Memang terlihat sangat kontras dengan pemahaman kita selama ini. Nabi saw yang notabene sebagai uswatun hasanah, namun ada sebagian perilaku beliau yang tidak patut kita teladani. Mengapa demikian, perlu juga kita ingat bahwa Nabi saw juga seorang manusia yang berbudaya. Perilaku-perilaku nabi seperti poligami, memakai jubah, berjenggot, berambut gondrong, nabi yang suka makan paha kamnbing, dsb. Semua itu merupakan perilaku nabi yang tidak wajib diteladani bahkan sebagian yabg lain harus dijauhi. 


Sangat disayangkan sekali pada generasi saat ini yang mengatakan dengan memakai jubah, berjenggot dan sebagainya dianggap sebagai sunah nabi saw. Itu semua merupakan produk budaya Arab. Ingat, disini kita mempunyai budaya sendiri yang notabene agak berbeda dengan budaya Arab. Dalam kasus pemakaian jubah misalnya, konteks Arab yng gersang dan panas akan sesuai dengan memakai jubah. Tujuannya agar terlindungi dari sengatan matahari yang sangat terik. Selain itu matapencaharian disana juga mendukung. Berbeda dengan di Indonesia misalnya, konteks memakai jubah perlu ditinjau kembali. Kondisi geografis yang berbeda juga membuat budaya berbeda pula, di Indonesia iklim lumayan sedang tidak terlalu terik dan mayoritas matapencaharian disini sebagai petani. Sampai disini saya tidak bisa membayangkan, bapak-bapak dan ibu petani yang menanam padi dengan memakai jubah, apa yang terjadi??😅😅

#wallahua'lam...


#Tulungagung, 4 September 2020

#JumahBerkah

Komentar

  1. Tidak hanya petani bahkan banyak profesi lain di Indonesia yang memang tidak pantas jika mereka mengenakan jubah untuk berativitas, tidak bisa membayangkan jika nelayan berlayar dilautan mengenakan jubah 😅😅, tak dapat dibayangkan juga bekerja di industri genteng dan batu bata mengenakan jubah😅,,, justru itu menjadi hal yang tidak wajar jika dilihat oleh masyarakat, bisa geleng-geleng kepala yang melihatnya

    Indonesia, negara kita ini memang beragam, sungguh kaya akan budaya jadi ya lebih baik kita berpakaian layaknya dimana kita tinggal, dimana kita berada, tidak perlu berlebihan dan aneh-aneh. Tapi juga jangan sampai mencemooh atau berprasangka tidak baik jika ada sebagian orang di sekitar kita yang mengenakan jubah di kehidupan sehari-hari nya, cukuplah kita hargai mereka dengan baik.

    BalasHapus
  2. Islam NUsantara, sebagai ciri khas masyarakat muslim/ah di Indonesia.

    BalasHapus

Posting Komentar