Oleh: Thoriqul Aziz
Ulama yang satu ini sudah berkali-kali saya bahas dibeberapa tulisan, baik di tulisan ringan maupun di jurnal. Akan tetapi masih saja ada celah untuk menggali ilmu dari sosok ini.
KH. Bisri Misthofa, saya memangilnya lebih akrab dengan Mbah Bisri, merupakan tokoh yang populer di era tahun 60 an. Melalui beberapa tulisan yang membahas biografinya, sedikit banyak saya mengetahui kepribadian ayah KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) ini.
Ia dikenal sebagai seorang "Singa Podium", penceramah handal pada masanya. Beliau dapat mengundang gelak tawa para audien. Dapat menjelaskan materi yang sukar menjadi mudah. Mengkritik seseorang tanpa menyakiti hati yang dikritik, dan sebagainya.
Mbah Bisri juga dikenal sebagai seorang yang prolifik. Seorang yang banyak menghasilkan karya tulis. Ia menekuni dunia literasi semenjak ia masih di pondok, hingga menjadi kiai pondok. Ada yang mengatakan setidaknya 176 judul karya telah beliau hasilkan. Sungguh ulama yang patut untuk diteladani.
Lantas apa yang memotifasi beliau untul selalu produktif berkarya? ternyata, kesuksesan beliau ini berasal dari dorongan internal Mbah Bisri sendiri. Beliau dalam menulis mempunyai falsafah dengan "menipu syetan".
Mengutip dari buku Jejak 101 Tokoh Ulama Nusantara, pernah ada perbincangan hangat antara KH. Munawir Krapyak dengan Mbah Bisri. KH. Munawir dengan nada 'bolo dewe' bertanya, "kealimanku jika dibandingkan denganmu tidak kalah, tapi mengapa aku tidak bisa menghsilkan banyak kitab sepertimu".
Mbah Bisri menjawab,:"menulis itu harus diniati dengan mencari rejeki, jangan lillahita'ala. Kalalu lillahi ta'ala, gak bakal jadi seperti sampean. Orang menulis itu ibarat seperti penjahit. Harus dilakukan terus menerus, kalaupun ada tamu, mereka layani dan disambi dengan menjahit. Kalau berhenti, ya tidak bakal jadi jahitannya. Begitu juga dengan menulis, harus dilakukan secara kontinu biar jadi tulisannya. Andaikan mau diterbitkan, baru diniati Lillahi ta'ala. Jadi, syetan harus ditipu juga".
Ternyata demikianlah rahasia sukses Mbah Bisri dalam dunia litetasi. Menulis membutuhkan waktu yang dijalankan secara kontinu. Belajar dari Mbah Bisri, menulis sudah menjadi bagian dari hidupnya. Menulis dijadikan sebagai 'profesi' yang dapat memperoleh penghasilan darinya. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran, bahwa ada beragam metode "penyemangat" untuk menumbuhkan spirit literasi sebagaimana Mbah Bisri.
#Kediri, 15 September 2020
#SalamLiterasi📘
Mantab Mas Thoriq. Semangat menulis Allahu yarham Mbah Bisri sungguh luar biasa. Alhamdulillah sampai sekarang saya dan teman-teman menikmati buah karya Beliau. Diantaranya terjemah bahasa Jawa Alfiyah Ibn Malik, terjemah bahasa Jawa Jauharul Maknun, dan tafsir Ibriz. Lahul fatihah.
BalasHapusaamiin..bliau inspirator sjti..
Hapushehe, terima kasih mas motivasinya. 'Setan' yg berasal dari dalam (diri) yang terkadang masih terus menghantui.
BalasHapus