KH. Yasin Asymuni Seorang Prolifik dari Kota Tahu



Oleh: Thoriqul Aziz


Kediri, selain dikenal sebagai tempat keberadaan pabrik rokok yang sudah  mendunia juga dikenal sebagai kota tahu. Kota kecil yang berada di Jawa Timur ini juga dikenal dengan ada banyaknya pesantren-pesantren yang dapat mencetak sumber daya manusia uang berkualitas. Di kota inilah seorang KH. Yasin Asymuni lahir.


Beliau merupakan seorang kiai pondok pesantren di Kediri. Tepatnya di Dusun Puhrubuh, Desa Petuk, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Suatu pondok yang diberi nama pesantren "Hidayatut Thullab". Namun, nama pesantren ini kurang begitu populer, karena masyarakat lebih mengenalnya dengan pesantren Petuk yang notabene nama sebuah desa dimana pesantren Hidayatut Thullab berada.


Pesantren ini terkenal karena kemampuan seorang kiainya, KH. Yasin yang dikenal sebagai pengarang kitab-kitab kepesantrenan. Ya, beliau merupakan seorang penulis produktif. Kiai alumni pondok Lirboyo ini setidaknya telah menghasilkan 200 an lebih judul karya kitab. Banyaknya judul karya yang dihasilkan menurut penulis wajar saja, karena mayoritas kitab yang dikaranganya  ketebalan halaman rata-rata sekitar 40 sampai 60 an halaman. Meskipun demikian, usaha KH. Yasin patut diapresiai. Oleh karena itu dengan banyaknya karya tersebut pantaslah ia pernah mendapat penghargaan dari Kementrian Agama sekitar tahun 2003 lalu.


Kitab-kitab karangan KH. Yasin mayoritas menggunakan bahasa Arab. Pada mulanya ia pernah menulis kitab dengan berbahasa Jawa, namun 'tidak laku' di pasaran. Hal inilah yang kemudian membuat KH. Yasin mencoba menulis dengan berbahasa Arab. Ternyata, hasil karya dengan bahasa Arab tersebut lebih diminati masyarakat, terutama kalangan pesantren. Mulai dari situlah kemudian berpuluh-puluh karya dihasilkannya. 


Mayoritas karya yang dihasilkan KH. Yasin berkutat pada studi keagamaan seperti tafsir, hadis, fiqih, dan yang selainnya. Namun dari beragam studi tersebut yang paling banyak ialah pada bidang fiqih, sesuai dengan spesifikasi pondok pesantren yang didirikannya dengan mengambil fokus fiqih. 


Satu hal yang menjadi ciri khas karangan KH. Yasin, yang sampai saat ini dikenal yaitu kitab makna pesantren Petuk atau biasa  disingkat kitab Petuk. Ciri khas ini diberikan oleh masyarakat, yang telah terbiasa menggunakan karya-karya kitab dari Petuk tersebut.


Kepopuleran KH. Yasin tidak hanya di dalam kotanya saja, tetapi juga di seluruh kota-kota di Indonesia dalam komunitas santri. Tidak hanya di Indonesia, kitab karya KH. Yasin ini juga dikenal dam dipelajari di Inggris. Hal ini sebagaimana kehadiran seorang Mr. Yakiti yang berasal dari Inggris bertandang di pesantren Hidayatut Thullab pada tahun 2003.


Mr. Yakiti menemui KH. Yasin karena hendak meminta izin untuk mencantumkan namanya ke dalam 100 tokoh ulama yang hasil karyanya dipelajari di Inggris. Menurut penuturan Mr. Yakiti, karya-karya KH. Yasin dipelajari disana karena kesamaan madzhab yang dianut, Syafiiyah. 


Dari perjalann KH. Yasin di atas tampaklah keberhasilannya dengan kegiatan menyusun kata-kata. KH. Yasin telah dikenal banyak orang berkat karya tulisnya. Tidak hanya itu, ketekunannya dalam menulis telah membantu kecerdasan masyarakat dalam ilmu-ilmu agama. Dengan begitu masyarakat yang masih awam dapat menjalankan ibadah spiritualnya dengan baik dan benar.



#Kediri, 25 September 2020

#JumahBerkah

#LiterasiParaKiai

Komentar

Posting Komentar