Oleh: Thoriqul Aziz
Membaca sekilas judul di atas pasti terasa janggal di pikiran kita. Oleh karena itu, baca sampai tuntas tulisan ini, biar tidak terjadi kejanggalan dan misunderstanding. Sehingga Anda akan memahami apa yang saya maksud dengan judul di atas.
Oke, mari kita mulai. Judul di atas merupakan hasil ingatan saya hari ini yang sayang untuk dilewatkan. Saya teringat beberapa tahun yang lalu saat ngaji di ndalem kiai di desa saya. Ngaji diadakan setiap sore (bakda Ashar) dan libur setiap hari Jumat saha. Saya dengan kolega ngaji kitab kuning yang diampu oleh seorang kiai di desa saya, KH. Muhyidin. Yang akrab kami panggil dengan Pak Kaji.
Ceritanya, saat itu saya dengan bersama kolega yang lain duduk bersama mendengar penjelasan Pak Kaji yang bertepatan dengan akhlaq terhadap orang tua. Bab ini sangat penting untuk diketahui oleh setiap anak, karena menjadi suatu kewajiban baginya dapat memahami bagaimana cara yang tepat berbakti padanya.
Dalam konteks ini, Pak Kaji menjelaskan bahwa sudah menjadi ciri khas orang tua memiliki (terutama ibu) memiliki karakter dan watak yang banyak bicara (dalam bahasa Jawa: kenyeh). Namun pada dasarnya, orangtua seperti ini sebenarnya hendak memberi pengarahan terhadap anaknya ke arah yang lebih baik. Akan tetapi hal ini tidak banyak disadari oleh anak tersebut.
Orangtua adalah orang yang paling banyak jasanya pada kita. Agama (Islam) mewajibkan pada seorang anak untuk berbakti dan mentaati segala yang diperintahkan oleh orangtua, selama hal itu tidak mengarah pada kemusyrikan dan dosa (Qs. Luqman: 13). Perintah tersebut dikuatkan dengan sabda Nabi saw bahwa menjadi hal wajib untuk menghormati orangtua terutama seorang ibu. Bahkan dalam redaksi hadis diulang sampai tiga kali, baru kemudian berbakti kepada ayah.
Seorang ibu harus diutamakan daripada ayah, karena mengingat perjuangannya dari sejak mengandung yang setiap harinya lemah dan bertambah lemah (baca Qs. Luqman: 14). Kemudian hingga melahirkan yang tentunya membutuhkan tenaga ekstra untuk mengeluarkan si jabang bayi ke dunia dengan mempertaruhkan nyawanya. Alquran mengilustrasikan seorang Maryam yang ketika hendak melahirkan merasakan sakit setengah mati, oleh karenanya ia berkata 'memilih untuk mati daripada menahan sakitnya melahirkan' (baca proses persalinan Maryam Qs. Maryam 22-26). Dan masih banyak lagi perjuangan seorang ibu dalam memebesarkan dan mendidik anak-anaknya.
Kaitannya dengan realita di atas, Pak Kaji mengibaratkan orang tua sebagaimana 'Qur'an Rusak'. Berikut dhawuh beliau: "..Wong tuwek kui ibarate (mushaf) Qur'an amoh caah, ra kenek diwoco, nanging kudu tetep dihormati lan diajeni" "(orangtua itu ibarat (mushaf) Alquran yang rusak, sudah tidak dapat dibaca, namun harus tetap dihormati)". Pak Kaji selalu mengulang-ulang nasihat ini, meskipun tidak dalam bab pembahasan tentang akhlaq pada orang tua. Karena mengingat akan pentingnya hal tersebut.
Dari nasihat ini, tampak bagaimana Pak Kaji memberikan analogi yang tepat, antara Alquran dan orang tua. Kedua-duanya merupakan sesuatu hal yang penting dalam kehidupan kita. Alquran dengan segala keagungan dan keistimewaannya perlu mendapat perhatian lebih dari yang selainnya, baik isi maupun fisiknya. Begitu juga halnya dengan orangtua. Alquran yang sudah rusak tetap dihormati, karena didalamnya teraimpan kalam suci. Begitu juga dengan orangtua.
#Tulungagung, 28 Agustus 2020
#JumahBerkah
Sangat bermanfaat mas.
BalasHapusBagaimanapun, seorang anak tak akan pernah sanggup membalas segala jasa dan perjuangan beliau.
Apa yang beliau tuturkan, arahkan pada anaknya, sudah pasti itu adalah yg terbaik.
iya mas..smg mnfaat😊
BalasHapusSetuju memang ibu selalu banyak berkata tapi itu semua demi kwbaikan anak-anaknya
BalasHapusSetuju memang ibu selalu banyak berkata tapi itu semua demi kwbaikan anak-anaknya
BalasHapus