Oleh: Thoriqul Aziz
Saat ini terdapat sekitar 58 PTAIN yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan perincian 17 Universitas Islam Nageri (UIN), 34 Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan 7 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN). Perkembangan ini terbilang sangat pesat semenjak awal berdirinya PTAIN sekitar 60 an tahun lalu.
Berkembangnya PTAIN ini tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan peran seorang KH. Raden Muhammad Adnan (selanjutnya Kiai Adnan). Beliau, dengan KH. Imam Ghazali, dan KH. As'at merupakan penggagas awal berdirinya PTAIN di Indonesia. Tujuan utama mendirikan peeguruan tinggi tersebut untuk menampung para siswa Aliyah atau Pesantren yang telah lulus.
Kiai Adnan lahir di kompleks Pengulon, Surakarta pada 16 Mei 1889 dan wafat pada 24 Juni 1969. Beliau merupakan keturunan bangsawan kraton Surakarta. Ayahnya seorang Abdi Dalem yang bernama Muhamad Qamar bergelar Tafsir Anom V. Jika ditelusuri rentetan silsilah Kiai Adnan sampai pada Sultan Trenggono (raja Demak yang terakhir).
Tampak dari gelar yanh disandang sang Ayah, Tafsir Anom berasal dari bahasa Arab Tabsyir Anam (lidah Jawa mengatakan Tafsir Anom) yang berarti pemberi kabar gembira. Pekerjaan utama ayahnya sebagai pengulu (penghulu) yakni orang yang mengurusi bab agama Islam khususnya pada masalah nikah, talak, dan rujuk.
Lingkungan yang agamis menjadikan Adnan muda mendapat gemblengan ilmu agama yang memadai. Diawali dari sang ayah sendiri yang mengenalkan pokok-pokok agama Islam. Dari lingkungan keluarganya itulah kemudian Kiai Adnan mengembara dari satu pesantren ke pesantren lain. Pengembaraan paling jauh Kiai Adnan berada di Timur Tengah, tepatnya di Haramain. Saat itu diyakini sebagai tempat berkumpulnya ilmu-ilmu Islam.
Keluasan ilmu dan kecerdasan akal Kiai Adnan serta didukung dengan nasab yang baik turut mengantarkannya pada kesuksesan. Selama hidupnya, beliau banyak menjabat berbagai bidang pekerjaan. Dalam dunia pendidikan beliau menjadi seorang pejuang pendidikan di Indonesia. Beliau salah satu penggagas PTAIN di Indonesia, yang saat itu bernama Perguruan Tinggi Islam (PTI). Perlu diketahui, nama-nama PTAIN saat ini yanh sering dinamakan dengan tokoh-tokoh Islam dan penyebarnya (wali songo) adalah usul dari beliau. Kariernya dalam bidang pendidikan yang tertinggi ialah menjadi rektor IAIN Sunan Kalijaga dan memperoleh gelar tertinggi, yakni Guru Besar pada bidang Fiqih.Pengukuhan gubesnya menyampaikan ceramah ilmiah yang kemudian dibukukan menjadi 'fiqih dan ishulnya'.
Pada bidang lain, Kiai Adnan pernah ditunjuk oleh penguasa Jepang saat itu menjadi anggota Dewan Kota yang bertugas di Jakarta beserta lima koleganya. Tugas Dewan Kota ialah memberikan pencerahan terhadap permasalahan agama, dan Kiai Adnan khusus pada agama Islam. Kalau saya memahami Dewan Kota yang dibuat oleh Jepang ini tak ubahnya sebagaimana 'penghulu' sebagaimana disinggung di atas.
Kemudian pada pasca Kemerdekaan beralih dalam bidang politik. Sebelumnya perlu saya berikan pandangan beliau tentang politik. Menurut Kiai Adnan, berpolitik itu boleh. Politik dapat dijadikan sebagai lahan untuk perjuangan dan pengabdian terhadap agama. Pasca kemerdekaan ini, Kiai Adnan ditunjuk menjadi anggota politisi masa presiden Soekarno. Jasa beliau dibidang ini, ialah usahanya diplomasi dengan negara-negara Islam di Timur Tengah untuk meminta pengakuan kedaulatan RI. Perjalanan ke Timteng ini sekaligus Misi Haji untuk menjalin persahabatan dengan Arab Saudi yang pertama kali.
Dari perkenalan singkat dengan Kiai Adnan di atas. Saya hendak memotret sisi lain dari kepribadian beliau. Membaca dari berbagai jabatan yang diemban Kiai Adnan di atas serta didukung dengan latar belakang sebagai bangsawan kraton Surakarta, tentunya beliau merupakan seorang yang serba berkecukupan. Hidup dilingkungan kraton menjadikannya terkabulkan apa yang ia inginkan.
Kalangan kraton Surakarta saat itu dikenal sebagai kalangan yang glamour suka berfoya-foya dan bersenang-senang. Namun hal ini tidaklah demikian pada diri Kiai Adnan. Pendidikan agama dari ayahnya, yang juga merupakan tokoh tarekat, serta pendidikan pesantren menjadikan pribadi Kiai Adnan sebagai seorang yang sederhana.Gemerlapnya kraton tidak lantas menjadikan beliau lalai dengan akhiratnya.
Selain itu berbagai kesuksesan yang diraih dalam berbagai bidang juga tidak mempengaruhi kepribadian seorang Kiai Adnan. Beliau uang pernah menjabat sebagai rektor IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN) ini juga tidak berpengaruh pada pribadinya. Kepribadian Kiai Adnan ini mengingatkan saya pada al-Ghazali seorang sufi besar abad peetengahan.
Menurut pengkuan salah satu anaknya, Abdul Basit Adnan. Ayahnya sering tidur hanya dengan beralaskan tikar dan berbantalkan sebilah kayu yang ditutup dengan serban. Kesehariannya yang tidak pernah ditinggalkan ialah shalat berjamaah, shalat dhuha, dan shalat tahajud.
Beliau juga dikenal sebagai seorang yang memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap perbedaan dan pemikirannya dalam menyikapi perbedaan. Salah satu contohnya, tatkala ia ditanya tentang masalah doa yang dikirimkan kepada orang sudah meninggal. Doa terabut tersampaikan atau tidak?. Dengan bijak beliau menjawab, permasalahn sampai atau tidaknya sebuah doa bukanlah urusan manusia melainkan urusan Allah swt. Dengan jawaban inilah yang menentramkan dan dapat diterima kalangan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.
#JumahBerkah
#Tulungagung, 7 Agustus 2020
Keren....
BalasHapusmsih berproses pak..
BalasHapus