Oleh: Thoriqul Aziz
Tidak dapat dipungkiri, Alquran telah menamakan dirinya sebagai sumber literasi. Kata 'Alquran' berasal dari redaksi qara'a-yaqra'u-qiraatan-waquranan yang memiliki salah satu arti bacaan. Nama lain Alquran juga mengindikasikan arti yang sama, salah satunya al-Kitab yang berarti kitab/buku. Berdasar kata ini, dapat ditangkap pemahaman awal bahwa sedikit banyak isi Alquran tidak jauh dengan apa yang tertera dalam nama tersebut.
Berkaitan dengan pernyataan di atas, sejak awal pewahyuannya, Alquran telah mencatatkan sejarah dengan menurunkan ayat berkaitan dengan dunia literasi, yaitu perintah untuk membaca iqra' (bacalah). Ayat tersebut diwahyukan pada Nabi saw, padahal Nabi saw dikenal sebagai orang yang ummi yakni tidak dapat membaca dan menulis. Quraish Shihab menafsirkan redaksi ini dengan menghimpun, maksudnya dapat berarti membaca sesuatu yang tertulis, membaca situasi, dan yang selainnya (Tafsir al-Misbah: 2002). Dalam konteks ini, jika kaitannya dengan Nabi saw maka makna yang tepat ialah membaca situasi, yakni nabi saw diperintah membaca situasi masyarakat Arab saat itu.
Meski secara literal tidak diperintahkan untuk "menulis", dari perintah tersebut dapat dipahami bahwa Tuhan memerintahkan membaca berarti ada sesuatu ‘objek’ yang dibaca. Nah, dari 'objek' inilah yang dapat berwujud tulisan, sebagaimana juga penjelasan Quraish Shihab di atas. Perintah ini mengilustrasikan betapa pentingnya "membaca" (dan menulis) dalam kehidupan umat manusia.
Terlepas dari beragam makna yang ada dalam ayat di atas, yang perlu digaris bawahi adalah pentingnya literasi dalam kehidupan manusia. Baik membaca ataupun menulis merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Seseorang dapat menulis karena ia mempunyai pengetahuan dari 'membaca'. Begitu sebaliknya, seseorang yang membaca mengetahui bacaan dengan apa yang 'tertulis'. Demikian keduanya ibarat dua sisi mata koin yang tidak dapat terpisahkan. Dari latar belakang ini, penulis hendak menelusuri lebih dalam bagaimana spirit literasi yang ada dalam Alquran.
Penulis mengawalinya dengan mencari redaksi yang mengindikasikan adanya spirit literasi. Dalam konteks ini, penulis menelusuri dengan kata kunci 'tulis' dan 'catat', pencarian yang penulis gunakan dalam aplikasi Alquran dan Tafsir Kemenag RI. Dari hasil penulusuran yang menyatakan kata "tulis" terdapat 24 ayat, yang tersebar dalam berbagai surat. Sementara dengan kata "catat" terdapat 14 ayat dan tersebar dalam berbagai surat. Kesemua ayat ini mengindikasikan bahwa dalam Alquran mengandung spirit literasi yang tinggi. Kedua redaksi yang penulis gunakan di atas hanyalah sebagai sampel, dan masih memungkinkan adanya redaksi lain yang menunjukkan spirit literasi Alquran, kata tinta dan kitab misalnya.
Allah Bersumpah demi Pena (al-qalam)
Begitu urgentnya dunia literasi dalam kehidupan manusia, hal ini menjadi perhatian lebih oleh Sang Maha Pencipta. Tidak tanggung-tanggung, Allah menjadikan salah satu simbol literasi dalam bentuk nama surat Alquran, yaitu surat ke enam puluh delapan, al-Qalam (pena). Surat ini diturunkan setelah surat al-'Alaq, surat yang pertama kali turun. Dalam surat ini ayat pertama yang berbunyi, Nu>n wa al-Qalami wa ma> yasturu>n (Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis).
Menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, dengan mengutip dari pemahaman mufasir yang dimaksud dengan Nun ialah tinta, sementara qalam disini bermakna pena, dan sumpah itu berarti hasil dari kolaborasi kedua hal sebelumnya, yakni hasil buah karya tulis manusia sebagai alat untuk menyebarkan ilmu. Mengingat ketiga hal tersebut, tinta, pena, dan buah karya tulis betapa pentingnya dalam kehidupan manusia (Tafsir Al-Azhar: 1982).
Para ulama memahami ayat ini dengan qasam atau sumpah Allah dengan al-qalam (pena) dan segala yang tertulis dengannya. Sumpah ialah suatu bentuk usaha untuk meyakinkan pendengar maupun pembaca, bahwa apa yang dikatakannya merupakan kebenaran. Disisi yang lain, sumpah juga bermakna mengingatkan sesuatu yang sifatnya mulia, dapat bermanfaat bagi pembaca, ataupun yang bernilai positif bagi manusia agar menjadi Itibar. Dari pemahaman ini, dapat ditarik suatu pemahaman bahwa kuatnya spirit dan perhatian Tuhan dalam dunia literasi. Hal ini mengindikasikan bahwa ilmu Allah sangatlah luas. Oleh karena itu setiap manusia untuk mempelajari dan memperdalam ilmu-Nya. Setelah itu perintah untuk menuliskannya, tujuannya agar ilmu yang telah terserap tidak hilang begitu saja meskipun mereka yang telah memahami telah meninggal dunia.
Indikasi lain tergambar dalam realitas sejarah peradaban Islam awal. Dalam suatu riwayat, kemenangan umat Islam dalam perang Badar telah berhasil menawan musuh-musuh Islam. Saat itu Nabi saw, meskipun ia sendiri tergolong seabagai orang yang ummi, tidak lantas mengabaikan pentingnya baca-tulis. Sebaliknya perhatian Nabi saw pada dunia literasi tampak pada kebijakannya yang mempersilakan para tawanan untuk menebus dirinya sendiri dengan syarat, setiap satu orang tawanan wajib untuk memberi pelajaran baca-tulis pada sepuluh anak-anak kaum muslim.
Menurut Hasbi ash-Shiddiqy dalam Tafsir An-Nur, ayat ini memberi isyarat bahwa didalamnya terdapat nikmat Allah yang besar untuk diberikan pada manusia. Dengam 'pena' dan kitab inilah yang menjadi ukuran maju atau mundurnya sebuah negri. Dengam sangat jelas, Allah bersumpah demi 'pena' ini bertujuan untuk menarik minat umat manusia untuk mempergunakannya dengan tepat. Lebih lanjut, menurut Hasbi kaitan dengan surat al-Alaq begitu jelas. Surat al-'Alaq mendorong umat manusia untuk membaca, sementara surat al-Qalam mendorong untuk menulis. (ash-Shiddiqy: 2011, Jilid 4, 392).
Menulis dalam Kehidupan (Bermuamalah)
Urgensi lain dunia literasi dalam kehidupan manusia, sebagaimana perintah Tuhan dalam Qs. al-Baqarah/2: 282. Dalam ayat ini, Allah memerintahkan mereka yang sedang bermuamalah, dalam konteks hutang piutang, untuk menuliskan aqad yang sedang dilakukan dengan disertai seorang saksi. Perintah ini lebih diutamakan daripada tidak menuliskan aqad tersebut sampai proses hutang dilunasi oleh si penghutang. Hal ini diperintahkan Allah karena mengingat kemampun daya serap akal manusia yang terbatas.
Dalam ayat tersebut tampak dinyatakan oleh Allah bagaimana, menulis (sesuatu yang baik) terdapat kebaikan dan memiliki manfaat yang besar kepada diri penulis. Hal ini menjadi suatu indikasi bahwa terdapat kekuatan (power) dalam setiap tulisan. Adapun kiranya, kekuatan-kekuatan yang terkandung dalam sebuah tulisan dapat merujuk pada buku The Power of Writing karya Dr. Ngainun Naim.
Spirit literasi yang ada dalam Alquran sudah diakui oleh banyak pihak serta pemikir Islam sendiri, sebut saja Nasr Hamid Abu Zaid. Dalam sebuah karyanya Abu Zaid berkesimpulan bahwa peradaban Islam adalah peradaban teks (hadharat al-nash). Artinya, kemunduran dan kemajuan umat Islam tak ubahnya berasal dari bagaimana cara memahami "teks" tersebut. Sehingga dari pemahaman ini muncullah istilah lain, yang dikatakan Abu Zaid sebagai teks pembentuk budaya (muntaj tsaqa>fi) (Tekstualitas Alquran: 2005).
Memang tidak dapat dipungkiri, sejak awal "berdirinya" Islam, penuh diliputi dengan nuansa teks sebagaimana kitab suci Alquran yang diyakini umat Islam sebagai kitab petunjuknya. Allah bersama para penjaga Alquran telah berusaha menjaga Alquran dari perubahan zaman, baik melalui para penghafal maupun dengan media tulisan. Dan justru media kedua inilah yang mampu mengabadikan Alquran sampai sekaran bahkan sampai era yang akan datang.
Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa sejak awal diturunkannya, Alquran telah membawa spirit literasi. Dari berbagai surat yang ada, Alquran menjadikan literasi sebagai media untuk menyalurkan dan mengembangkan keilmuan. Tidak hanya itu, dunia literasi dijadikan sebagai media dalam bermuamalah kehidupan manusia yang mengindikasikan urgensi literasi dalam relung kehidupan. Dengan spririt literasi yang disuarakan Alquran, manusia dapat mengabadikan dirinya sendiri dan dapat menciptakan sebuah peradaban.
#Tulungagung, 03 Juli 2020
#Jumah berkah

Mantap ini mas, menambah semangat utk berkarya
BalasHapushe..iya mas,"literasi" ternyata ada dasarnya
BalasHapusSepeeti biasa, bernas dan berisi... Luar biasa Gus,.
BalasHapusseperti biasa...msih pembelajar yi
BalasHapus