Nilai-nilai Humanisme dalam Syiir Jawa


Oleh: Thoriqul Aziz



Tradisi syiiran di Jawa erat kaitannya dengan tradisi syiir di Arab. Kata syiir itu sendiri merupakan kosa kata dari Arab. Syiir atau syair di tanah Arab berkaitan erat dengan sastra (adab) yang memiliki estetika. Kita tahu, bangsa Arab pada zaman dimana Alquran diturunkan pertama kali merupakan ahli dalam bersyair. Budaya tersebut dapat dilihat sebagaimana tantangan-tantangan Alquran terhadap penyair untuk membuat satu ayat yang sepadan dengan Alquran.

Terlepas dari hal di atas, tradisi sastra Arab terus bertransformasi dan pada akhirnya syiir menjadi erat kaitannya dengan kesenian Islam. Syiir yang berkembang saat ini terbagi ke dalam dua bentuk, yaitu sastra fiksi (adab al-insyai) dan sastra non fiksi (adab al-wasfi). Syiir termasuk kategori puisi dalam bahasa saat ini, dan termasuk dalam kategori sastra fiksi. Dari akar inilah tradisi syiiran berkembang dengan menjadi bagian dari sastra kreatif. (Mukhsin Jamil. at. all: 2010, 21).

Dalam perkembangan sejarah, syiir-syiir di Jawa tidak terlepas dari tradisi syiir di tanah Melayu. Tradisi syiir pada umumnya  berkembang di daerah  dengan basis pesantren. Syiiran yang berkembang  berisi petuah-petuah, ajakan berlaku baik dan nasihat kehidupan yang syarat dengan nilai-nilai humanisme.

Salah satu syiir yang dikenal dalam tradisi pesantren ialah Mitra Sejati Nerangake ing Bab Budi Pekerti. Syiir ini ditulis oleh KH. Bisri Mustofa, dari Rembang. Beliau pendiri pesantren disana, yang bernama Roudlotu Tholibin. Disamping sebagai seorang kiai, beliau ternyata juga sebagai seorang sastrawan handal.

Syiir tersebut ditulis dengan bahasa Jawa beraksara pegon. Mbah Bisri tidak memberikan informasi, kapan syiir ini selesai ditulis.Syiir ini ditulis sebanyak 109 bait yang terbagi ke dalam 19 bab. Syiir ini tampak ditujukan kepada audien yang umumnya anak-anak remaja.
Beberapa bab tersebut seperti: kamanungsan, sikepi anak marang bapak, sikepi anak marang ibu, sikepe rakyat marang pemerintah, dan sebagainya.

Dari beragam bab tersebut, tampak terlihat nilai-nilai humanisme yang ditebarkan oleh sang penulis. Nilai-nilai humanis tersebut tampak pada bab pertama, bab "kamanungsan" (kemanusiaan). Pada bab ini mbah Bisri mengutarakan bagaimana seorang manusia sebagai seorang yang saling membutuhkan orang lain. Syiir tersebut berbunyi :

Saben wong urip mesti butuh liyan.
Sebab lamun ijen temtu ora mangan.
Badhe dahar butuh wongkang adang sekul.
Wongkang nutul, lan kang nandur, lan kang macul.(Bisri Musthofa: tt, 2)

Setiap orang hidup pasti butuh yang lain.
Sebab jika sendirian pasti tidak makan.
Mau makan membutuhkan orang yang memasak nasi.
Orang yang nutul, yang menanam dan yang mencangkul.

Syiir di atas terdapat pada urutan bait ke sepuluh sampai tiga belas. Dari ungkapan di atas, Mbah Bisri tampak menjelaskan bagaimana kehidupan seorang manusia yang tidak mampu terlepas dari kehisupan manusia lainnya. Manusia adalah makluk sosial, makhluk yang membutuhkan satu sama lainnya. Karena seorang manusia tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidup masing-masing.

Sebagaimana yang dicontohkan Mbah Bisri dalam syiir di atas, hanya untuk makan saja seorang manusia membutuhkan tenaga orang lain. Mulai dari yang memasak, menanam dan lain sebagainya. Ini hanya satu contoh kasus kebutuhan manusia, belum lagi kebutuhan-kebutuhan primer lainnya. Dari syiirnya inilah Mbah Bisri menanamkan sikap humanisme yang penting untuk dimiliki pada setiap manusia.


#Jumah berkah
#Kediri, 16 Juli 2020

Komentar

Posting Komentar