Oleh: Thoriqul Aziz
Pada dekade 60 an masyarakat Indonesia, khususnya daerah Jawa Tengah pasti mengenal sosok Mbah KH. Bisri Mustofa (selanjutnya: Mbah Bisri). Beliau merupakan pendiri pesantren Roudhotut Tholibin di Rembang. Beliau adalah sosok cendekiawan muslim Indonesia yang serba bisa (multitalenta). Selain sebagai seorang kiai, beliau juga sebagai seorang penceramah, budayawan, dan politikus handal.
Di masa kecil, ia dikenal sebagai seorang anak yang malas, Ia lebih memilih bekerja daripada untuk mencari ilmu. Pada dasarnya sang ayah merupakan pengusaha sukses, sehingga tidak mungkin dirinya kekurangan dana hanya untuk menempuh studi. Namun akhirnya, ia mendapat hidayah dan kembali berstudi bersama anak-anak semasanya. Dalam menimba ilmu, ia sering bersama dengan saudara kandungnya, seperti KH. Misbah Musthofa seorang penulis tafsir al-Iklil fi Maani al-Tanzil yang merupakan adik kandung Bisri.
Mbah Bisri dan saudaranya melakukan rihlah ilmiyah, dari pesantren satu ke pesantren yang lain di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada saat di dunia pesantren inilah, semangat literasi Mbah Bisri tumbuh berkembang. Di pesantren, Mbah Bisri sering 'menuliskan' makna-makna kitab pesantren atau mensyarkh suatu kitab. Beliau juga dijadikan sebagai 'juru ketik' oleh para santri lain. Dengan usahanya tersebut, tidak jarang mbah Bisri mendapat 'honor' dari hasil menjual 'jasa ketik' tersebut.
Semangat literasi Mbah Bisri tidak hanya pada masa di pesantren semata, dan bahkan terus tumbuh pasca dari pesantren. Mbah Bisri merupakan seorang penulis 'handal', menurut penuturan sebagian santrinya simbol, beliau selalu membawa sebuah pena dan secarik kertas sebagai bahan mencatat. Beliau mencatat hal-hal yang terkait dengan nuansa keagamaan. Dari semangat ini, selama hidupnya beliau telah menghasilkan beragam karya tulis dari berbagai bidang studi, seperti nahwu-sharaf, akhlaq, sampai tafsir Alquran.
Dilihat dari beberapa karya tulisnya, ada beragam motif yang membuat Mbah Bisri aktif di dunia tulis menulis tergantung pada situasi sosial, politik, budaya bahkan motif ekonomi. Dari beragam motif ini, salah satu motif terkuatnya adalah sosial budaya. Dari beragam karyanya, Mbah Bisri mencoba menuliskan karya-karya tersebut sebagai ladang dakwah.
Pada dasarnya Mbah Bisri merupakan penceramah handal dengan vokal yang baik. Beliau dapat diterima semua kalangan, baik dari orang mlarat sampai konglomerat, dari penjual kasur sampai insinyur, dan seterusnya. Hal itu dikarenakan kepiawaiannya dalam mengolah kata mampu menyihir banyak pasang mata, memiliki kemampuan membuat joke-joke sehingga membuat pendengar tidak garing dan mencair dalam suasana. Mbah Bisri juga dapat mengkritik seseorang namun tidak sampai menyakiti hati yang dikritik.
Meskipun demikian, Mbah Bisri tidak melupakan dakwah dengan media tulis. Sebagai contoh, Mbah Bisri menulis dua syiir, yaitu Syiir Ngudi Susilo dan Syiir Mitra Sejati. Kedua syiir ini menggunakan bahasa Jawa dengan aksara pegon. Kedua syiir tersebut umumnya berbicara tentang akhlaq keseharian. Pada syiir pertama, terkhusus ditujukan pada remaja-remaja Islam. Latar belakang penulisan syiir ini, sebagaimana yang tertuang dalam awal syiir tersebut adalah kegelisahan sang penulis terhadap realitas sosial budaya remaja di sekitarnya yang semakin menjauh dari ajaran Islam. Akhlaq remaja Islam mulai pudar, karena semua itu akibat dari adanya arua modernisasi yang sedang 'menggila'. Budaya-budaya asing yang masuk di Indonesia, diterima begitu saja oleh para remaja tanpa memilih dan memilah budaya yang baik. Oleh karena itu, melalui syiir ini Mbah Bisri mengajak para remaja-remaja untuk kembali pada nilai-nilai etika Islam sesungguhnya.
Sementara pada karya syiir kedua, bahasan lebih luas ditujukan pada masyarakat umum. Laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Pada syiir ini, Mbah Bisri menerangkan bagaimana etika bermuamah dalam suatu komunitas, bagaimana akhlaq yang semestinya dilakukan pada bangsa, negara, dan manusia pada umumnya.
Dari kedua contoh tersebut, tampak Mbah Bisri menjadikan tulisan sebagai ladang dakwah. Dilihat dari media yang digunakan yaitu bahasa Jawa dan aksara pegon, secara umum menurut Islah Gusmian media tersebut erat kaitannya dengan budaya Islam Pesisir. Bahasa Jawa yang digunakan pun berbeda dengan Jawa Pedalaman yang identik dengan bahasa Keraton yang halus (kromo). Mbah Bisri menggunakan bahasa Jawa ngoko (kasar) yang sering digunakan oleh masyarakat awam Jawa. Masing-masing memang miliki kelebihan dan kekurangan, sifat bahasa ngoko yang egaliter dipilih bertujuan untuk membangun kedekatan sang penulis dengan audien.
Tidak hanya pada dua karya tulis di atas, Mbah Bisri menulis beragam karyanya mayoritas dengan bahasa Jawa beraksara Pegon yang syarat dengan nilai-nilai dakwah. Semua itu dilakukan tidak terlepas dari basis sosial keilmuan Mbah Bisri. Semua itu dilakukan Mbah Bisri karena merupakan suatu bentuk pengabdian dirinya sekaligus pengabadian.
#Tulungagung, 13 Juli 2020
Mantab
BalasHapusswun pak
HapusPaling ngefans dg Gus Mus. Tulisan yg inspiratif
BalasHapuskalo yg sy bahas itu abahnya gus Mus bu,, hee
BalasHapus