A la-la, Sukses Berstudi, dan Anti-Radikalis



Oleh: Thoriqul Aziz

Menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap orang muslim. Pernyataan ini diungkapkan dalam Alquran dan Hadis. Alquran menyatakan di beberapa ayat tentang perintah tersebut, misalnya dalam awal surat al-Alaq yang berbunyi "iqra' bismirabbika al-ladzi kholaq" (bacalah!..dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Menciptakan). Sementara dalam hadis nabi, seperti yang berbunyi "tholabul ilmi faridhatun ala kulli muslimin" (menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim). Demikian dasar perintah mencari ilmu.

Dalam berstudi, kita tidak bisa 'asal-asalan'. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi para pengkaji ilmu. Para ulama terdahulu telah menyusun kitab-kitab yang dijadikan sebagai 'patokan' dan partner dalam belajar. Begitu pentingnya 'patokan' ini sehingga mendapat perhatian lebih, terutama dalam dunia pesantren.

Saya teringat pada salah satu kitab sewaktu kecil yang sering diajarkan di madrasah-madrasah yang bertempat di masjid. Kitab itu berjudul "A la la". Judulnya singkat sehingga mudah diingat. Nama tersebut diambil dari nadham pada bait pertama kitab itu. Kitab  A la la berisi syair-syair Arab dan disertai terjemahan bahasa Jawa sekaligus syarahnya yang ditulis dengan aksara pegon. Terkadang, syarah ini terdiri dari satu bait, tidak jarang pula dua bait.

Syiir nadhaman tersebut merupakan ringkasan dari syiir-syiir yang ada dalam kitab Ta'lim al-Muta'alim karangan syeh al-Zarnuzi. Dalam edisi cetakan yang saya amati, kitab ini dicetak di ponpes Lirboyo dan menjadi bahan pelajaran disana. Dalam kitab itu hanya tertulis judul disertai penghias sampul serta tempat dicetak. Syair yang ada dalam kitab ini berjumlah sekitar 89 bait dari beragam bab.

Sejak di awal, kitab ini menekankan kiat-kiat sukses dalam berstudi dalam dua bait pertama. Adapun syiir yang mengatakan hal itu  yang berbunyi:

A la la, tanalul ilma illa bi sittatin#saun bii kaan majmu'iha bi bayani
Elingo dak hasil ilmu anging nem perkoro#bakal tak critaake kumpul kanti pertela
Dzuka'in wa hirsin washtibarin wa bulghatin#wa irsyadi ustazin wa tuuli zamani
Rupane limpat loba, shabar ono sangune#lan piwulange guru lan seng suwe mangsane

Kedua bait di atas merupakan wejangan dari Bab al-Ilmi, yaitu Sayyidina Ali Karromallohul Wajhah. Terjemah bebas dalam bahasa Indonesia pada syiir pertama, "ingatlah, bahwasanya ilmu itu tidak akan didapat kecuali dengan enam perkara#akan kami ceritakan yang terkumpul dan dengan jelas". Sementara pada bait kedua berarti "yakni berupa akal yang cerdas, loba, shabar, dan modal (dana)#dan diajar oleh seorang guru serta waktu yang panjang"

Dari syiir-syiir tersebut mari kita ulas satu persatu. Kunci sukses pertama dalam berstudi ialah akal yang cerdas (limpat).  Tidak dapat dipungkiri, akal yang cerdas dapat menyerap suatu ilmu dengan cepat. Pada hakikatnya, Tuhan telah memberikan kecerdasan pada setiap manusia ciotaanya dengan ragam yang berbeda-beda. Kecerdasan terbagi menjadi dua, yaitu kecerdasan yang berasal dari Sang Pencipta. Artinya, kecerdasan ini memang sejak lahir telah ada pada diri seseorang. Inilah yang dinamakan fitrah. Kedua, kecerdasan yang datang dari diri sendiri. Sifat dari kecerdasan ini merupakan hasil dari usaha setiap pribadi masing-masing. Kecerdasan ini dapat dilatih dengan giat membaca, menulis, dan lain sebagainya.

Kunci sukses kedua, ialah sungguh-sungguh (lobo). Menjadi suatu keharusan bagi setiap pencari ilmu bersungguh-sungguh. Akan terasa mustahil mendapatkan ilmu yang diinginkan jikalau tidak disertai dengan sikap ini. Kesungguh-sungguhan harus ditanamkan sejak dini, agar kelak nantinya mendapat ilmu yang diidam-idamkan. Dengan rajin membaca dan memahami apa yang sedang ia pelajari, niscya ilmu tersebut akan diperolehnya. Sebagaimana pepatah  Arab yabg berbunyi "man jadda wa jada" (barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkannya.

ketiga, sabar. Ini menjadi tantangan yang berat bagi pencari ilmu. Karena mustahil, ilmu akan diperoleh jikalau mengabaikan sifat ini. Kesabaran itu harus terus dipupuk dan dijadikan sebagai basic oleh para pencari ilmu. Kesabaran dalam konteks ini misalnya, sabar pulang dan pergi dari rumah ke tempat studi. Mungkin bagi mereka yang menetap tidak mempunyai problem, tapi bagi mereka yang tidak menetap harus bolak balik menjadi tantangan tersendiri. Sabar dalam bentuk yang lain, seperti sabar dalam mengerjakan tugas dari gurunya, dan masih banyak kesabaran lainnya.

Keempat, mengeluarkan modal. Kunci satu ini juga tidak dapat diabaikan. Pasalnya modal merupakan salah satu kunci yang menjadikan seseorang dapat mendapatkan ilmu. Berkaca pada para ulama-ulama klasik, mereka sengaja mengeluarkan harta-hartanya demi mendapatkan ilmu. Sayyidina Ali pernah berkata bahwa ia rela membayar seseorang yang mau memberikan pelajaran walaupun satu huruf, akan ia beri seribu dirham. Dari peristiwa itu memang kita harus menyadari bahwa ilmu itu mahal harganya. Sehingga setiap butuh akan ilmu, bersiaplah untuk mengorbankan hartanya.

Kelima, berguru pada ahlinya. Ini menarik untuk diperbincangkan. Sejatinya seorang pencari ilmu harus mencari seseorang yang pakar dalam bidangnya. Karena dari guru tersebutlah ia akan menerima suatu keilmuan sekaligus sebagai sanad. Hal ini penting, apalagi dengan ilmu agama. Sebagian ulama berkata, sanad merupakan sebagian dari agama. Oleh karena itu, dalam memahami agama, seorang pencari ilmu tidak dapat 'sembarangan' dalam menetapkan seorang guru. Apalagi dengan cara otodidak. Karena sangat dimungkinkan bagi pencari ilmu agama dengan cara ini akan terjerumus pada kesesatan. Dan termasuk dalam konteks saat ini menjadi salah satu pemicu timbulnya tindak ekstrimisme.

Keenam, membutuhkan waktu yang lama. Ilmu Allah itu sangat luas, mustahil untuk dirampungkan dalam tempo yang singkat. Serta tingkat untuk memahami suatu keilmuan juga tidaklah singkat. Lagi-lagi, kita harus 'mengaca' pada ulama-ulama terdahulu yang terbilang tidak singkat dalam mencari ilmu. Sebut saja Imam al-Thabari, sang ulama ensiklopedis yang menulis Jami' al-Bayan atau biasa dikenal dengan tafsir al-Thabari. Beliau menghabiskan waktunya hanya demi ilmu, bahkan ia tidak sampai menikah semasa hidupnya hingga ajal menjemput. Sekali lagi, memahami suatu ilmu, tidak dapat hanya sepintas dan singkat. Telebih dalam ilmu agama. Pemahaman instan seperti yang banyak dilakukan manusia modern saat ini, merupakan cikal bakal tersemainya aliran ektremis-radikalis masa kini.

Dari pembahasan di atas, tampak bagaimana kitab tersebut mengajarkan akan kunci sukses dalam berstudi. Keenam hal di atas, masing-masing berkait antara satu dengan yang lain. Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa kitab ini secara tidak langsung mengajarkan sikap anti-radikalis para pencari ilmu yang ditanamkan sejak dini.

#Kediri, 24 Juli 2020
#JumahBerkah

Komentar

Posting Komentar