Oleh: Thoriqul Aziz
Alquran diyakini sebagai kitab suci umat Islam. Didalamnya terdapat enam ribu ayat lebih, yang terbagi ke dalam seratus empat belas surat. Menurut riwayat, dari sekian ratus surat Alquran tersebut, intinya terdapat dalam surat al-Fatihah, dan dalam al-Fatihah yang menjadi intinya terletak pada basmalah.
Dari riwayat tersebut dapat dipahami bahwa dengan lafadznya yang padat dan singkat, ternyata siapa sangka didalamnya mengandung makna yang sangat luas. Satu ayat yang dapat menampung makna yang lebih dari enam ribu ayat. Itulah hebatnya Alquran.
Namun demikian, tidak lantas merendahkan ayat-ayat yang lain.
Karena keistimewaan inilah yang menarik para mufasir untuk memahami lebih dalam sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Salah satu usaha untuk memahami ayat itu dilakukan oleh Kiai Shalih Darat pada tafsirnya. Dijelaskan bahwa dalam basmalah terdapat sifat Allah Yang Maha Pengasih (al-Rahman) dan Yang Maha Penyayang (al-Rahim). Dalam konteks ini, sifat al-Rahman, oleh Kiai Shalih Darat dipahami sebagai sifat Jalal-nya Allah. Sementara sifat kamal-nya terletak pada redaksi al-Rahim. Menurutnya, dengan kedua sifat inilah segala makhluq yang ada di semesta raya ini ada. Jika dipahami demikian, dalam redaksi basmalah ini memang mengandung makna yang sangat luas. Sebagaimana luasnya semesta raya itu, bahkan tak terhingga.
Sebagian yang lain memahami dengan kasih sayang Allah di dunia semata yang tertuang dalam sifat al-Rahman. Jika dipahami demikian, bahwa kasih sayang Allah tidak terhingga bagi semua makhluqnya dan tidak tersekat-sekat. Dalam hal ini, Allah tidak memandang latar belakang, ras, warna kulit, agama dan lain sebagainya. Singkatnya, segala yang hidup di semesta raya pasti diberikan hidup oleh Sang Pemberi Hidup, yaitu Allah. Sementara redaksi al-Rahim, cakupan maknanya lebih sempit, diartikan sebagai kasih sayang Allah yang berada di akhirat saja. Pada redaksi ini, Allah hanya memberikan kasih sayangnya bagi mereka yang beriman dan bertaqwa selama didunia, tidak bagi yang lainnya. Hal ini sebagai konskuensi logis dengan sistem yang diciptakan oleh Allah sendiri.
Dengan memahami redaksi di atas, wajib bagi umat Islam untuk meyakininya sebagai pegangan hidup dan dijadikan sebagai pengingat bahwa kasih sayang Allah sangatlah luas. Dengan pemahaman demikian, semua akan berprasangka dan berperilaku positif. Oleh karena itu, Islam menganjurkan sebelum melakukan sesuatu yang baik hendaknya membiasakan membaca basmalah terlebih dahulu. Seperti hendak makan, minum, bepergian, bahkan bersenggama. Hal ini berguna bahwa segala yang dilakukannya dengan niatan karena Allah semata dan untuk mencari keberkahan yang ada di dalamnya.
Sejalan dengan perintah di atas, ditinjau dari perspektif psikologis, perintah di atas jika dilakukan mampu menanamkan energi positif bagi mereka yang menjalankannya. Dengan energi tersebutlah yang kemudian menjadikan setiap pembacanya teraplikasikan dalam setiap perilaku kehidupan. Yang terjadi, jika setiap orang melakukan perintah ini, bukan tidak mungkin akan terbangun masyarakat yang memiliki jiwa yang sehat dengan perilaku positif. Dari sini dipahami, bahwa setiap ingin melakukan perubahan yang besar harus dimulai dari hal yang kecil. Jika ingin merubah masyarakat, maka rubahlah diri sendiri terlebih dahulu. wallahua'lam..
#Jumahberkah
#Tulungagung, 19 Juni 2020
Komentar
Posting Komentar