Yang terhormat kepada ibu dosen mata kuliah teknik berpidato, ibu Lutfi Ulfa Ni'amah M. Kom. I. Dan tak lupa juga kepada teman-teman yang saya sayangi
Pada kesempatan kali ini, pertama-tama marilah kita panjatkan rasa syukur kepada Allah swt. mengapa kita perlu memanjatkan syukur...?? karena syukur tidak bisa manjat sendiri..he
Ya..kita harus selalu dan senantiasa memanjatkan syukur kepada Allah swt. biqowlina al- hamdulillahirabbil 'alamin....yang mana, kita semua telah diberikan rahmat, nikmat, hidayah, beserta inayahnya kepada kita semua sehingga kita bisa melakukan aktivitas sehari-hari terlebih lagi kita dapat menjalankan perintahnya seperti yang kita kerjakan saat ini yakni tholabul 'ilmi dalam keadaan sehat wal afiat.
Kedua kalinya shalawat serta salam semoga tetap terhaturkan kehatibaan baginda agung nabi penuntun umat, seorang nabi lentera dalam kegelapan, nabi yang telah merevolusioner, yang telah membawa kita dari kegelapan jahiliyah menuju zaman yang terang benderang yakni al-dien al-Islam dan yang selalu kita nanti-nantikan syafaatnya besok di hari kiamat kelak.
Pada kesempatan ini dalam tugas mata kuliah teknik berpidato saya ingin menyampaikan tema tentang syukur nikmat.
Hadirin yang di rahmati Allah...
Allah swt telah memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk mensyukuri nikmat- nikmat yang telah diberika-Nya seperti yang difirmankan dalam al-Qur'an al-Baqarah (2): 152
(((((((((((((( (((((((((((( ((((((((((((( ((( (((( ((((((((((( (((((
152. karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.
Dan juga dalam QS. Ibrahim (14) :7
(((((( (((((((( (((((((( ((((( (((((((((( ((((((((((((( ( ((((((( (((((((((( (((( (((((((( ((((((((( (((
"Dan (ingatlah juga) ketika Tuhanmu memaklumkan , sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambahkan nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka ketahuilah azab-Ku sangat pedih"
Ayat diatas sudah jelas bahwa Allah memerintahkan kita sebagai hamba-Nya untuk bersyukur kepada-Nya. Dan Allah juga menjanjikan barang siapa yang bersyukur maka akan ditambahkanlah nikmatnya sebaliknya jika kita mengkufuri nikmat Allah maka akan mendapatkan siksa yang sangat pedih di akhirat nanti.
Syukur menurut Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar bahasa Al-Quran menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, bahwa kata "syukur" mengandung arti "gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan." Kata ini --tulis Ar-Raghib-- menurut sementara ulama berasal dari kata "syakara" yang berarti "membuka", sehingga ia merupakan lawan dari kata "kafara" (kufur) yang berarti menutup --(salah satu artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.
Dalam tafsir al-Jalalain karya syeikh Jalaluddin Suyuthi dan syeikh Jalaluddin Mahalli, bersyukur adalah menjalankan ketauhidan dan ketaatan pada Allah, sedangkan orang-orang yang ingkar adalah orang berlaku kekafiran dan kedurhakaan.
Allah telah memberikan nikmat kepada hamba-hambanya sangat banyak hingga tak terhitung jumlahnya, hanya saja hamba tersebut yang tidak menyadari betapa banyaknya nikmat atau karunia yang telah diberikan. Contoh kecil, coba perhatikan dalam diri kita bagaimana keseluruhan organ tubuh itu disiapkan untuk melaksanakan fungsi yang telah diperuntukan pada masing-masing. Setiap organ tubuh dan atribut-atribut yang menjadi titik kemaslahatan manusia bisa menggapai semua kebutuhanya dan menyempurnakan segenap maksudnya. Jikalau ada satu organ saja yang sakit atau hilang, maka urusanya menjadi pincang dan petakanya membesar.
Kita sebagai makhluk Allah wajib merenungkan dan terus untuk mensyukuri nikmat Allah, nabi Muhammad saw bersabda :
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ عَنْ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ الْمُغِيرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ إِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَقُومُ لِيُصَلِّيَ حَتَّى تَرِمُ قَدَمَاهُ أَوْ سَاقَاهُ فَيُقَالُ لَهُ فَيَقُولُ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“ Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim berkata, telah menceritakan kepada kami Mis'ar dari Ziyad berkata; aku mendengar Al Mughirah radliallahu 'anhu berkata; "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bangun untuk mendirikan shalat (malam) hingga tampak bengkak pada kaki atau betis, Beliau dimintai keterangan tentangnya. Maka Beliau menjawab: "Apakah memang tidak sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?"
Melihat hadith tersebut kita layak menundukan kepala lantas meneteskan air mata, betapa mulyanya seorang yang telah dijamin masuk surga dan diharamkan masuk neraka masih sempat untuk melakukan shalat malam (bukan shalat fardhu) hanya ingin mensyukuri nikmat/karunia yang telah diberikan padanya.
Adapun kita sebagai umatnya apakah sudah mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita? Atau malah justru sebaliknya, mengkufuri nikmatnya? Sudah selayaknya kita meniru perilaku nabi Muhammad yang menjadi teladan yang baik bagi umatnya.
Berbicara tentang syukur berarti betarti ada sesuatu hal yang telah diberikan kepada kita yaitu nikmat. Imam Ghazali membagi nikmat menjadi beberapa tingkatan : pertama, nikmat duniawi/ harta. kedua, nikmat kesehatan badan/jasad. ketiga, nikmat akal. keempat, nikmat iman dan islam.
Pertama, nikmat dunia/ harta Merupakan tingkatan nikmat yang paling rendah sendiri dibanding dengan nikmat- nikmat yang lainya. Nikmat dunia/ harta diberikan kepada umatnya tanpa pandang bulu. Mengenai nikmat ini Allah tidak membeda- bedakanya yakni semua makhluk yang bernyawa pasti akan mendapatkan nikmat tersebut. Seperti yang di firmankan dalam QS. Hud :6.
( (((( ((( (((((((( ((( (((((((( (((( ((((( (((( ((((((((( (((((((((( ((((((((((((( ((((((((((((((((( ( (((( ((( ((((((( (((((((
“dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).
Allah memberi nikmat ini tidak membedakan seorang yang beragama Islam, Nasrani, Yahudi, Konghucu, Zoroaastrian ataupun yang lainya. Semua akann diberi nikmat dunia/harta. Lihat saja dikota-kota besar banyak pengusaha-pengusaha besar yang sukses yang kebanyakan dari kalangan etnis Tionghoa yang notabene bukan beragama yang diridhai allah. Sebagai orang yang beriman kita harus mensyukuri berapapun besarnya nikmat dunia yang telah diberikan kepada kita.
Kedua, nikmat sehat jasmani/jasad. Nikmat ini berada satu strip diatas nikmat duniawi. Kesehatan merupakan suatu nikmat/karunia yang diberikan Allah kepada kita yang sangat berharga. Tidak ada seseorang yang ingin menderita sakit, karena dengan kesehatan badan yang kita miliki menjadi ringan dalam menjalankan aktifitas, mulai dari beribadah pada Allah, bekerja terasa ringan, berangkat kuliah, mengerjakan tugas, apel kerumah pacar..he, dll. Semua akan terasa ringan tanpa beban.
Keadaan tersebut berbanding terbalik ketika kita jatuh sakit, beribadah terasa berat dan malas, berangkat kerja terasa berat, berangkat kuliah juga seperti itu apalagi kalau mengerjakan tugas, yang pasti semua aktifitas sehari-hari tidak bisa berjalan optimal bahkan dapat lumpuh total.
Mengapa nikmat sehat begitu penting daripada nikmat duniawi..? Hal tersebut bisa kita pahami dengan pertanyaan berikut. Ada seseorang yang kaya raya punya rumah mewah, mobil mewah, istri empat, mau apa saja tercukupi, dsb. tetapi orang tersebut menderita penyakit stroke. Lalu bagaimana ia bisa merasakan nikmatnya kekayaan dunianya tersebut??
Sebaliknya ada seseorang yang hidup pas- pasan rumah tidak begitu mewah, kehidupan yang sederhana, penghasilan pas-pasan, istri hanya satu, dsb. Tetapi orang tersebut dalam kedaan sehat jasmani, menjalani aktivitas dengan normal, makan terasa enak, meskipun hudup pas-pasan orang tersebut bisa merasakan nikmat dunianya. Sekarang kita baru tahu bahwa begitu mahalnya kesehatan jasmani tersebut.
Kita harus pandai-pandai mensyukuri nikmat yang satu ini, yakni dengan cara menjaga nikmat tersebut seperti menerapkan pola hidup sehat olah raga teratur, makan teratur, dll. Agar terhindar dari segala macam penyakit.
Ketiga, nikmat akal (kesehatan akal). Nikmat yang ketiga ini juga lebih penting dari kedua nikmat sebelumnya. Akal merupakan anugrah terbesar yang diberikan kepada makhluk yang bernama manusia karena komponen akal inilah yang membedakan antara manusia dengan makhluk lain seperti malaikat, manusia dengan jin, manusia dengan hewan, dll. Maka tak ayal jika di hari pembalasan nanti salah satu makhluk yang dimintai pertanggung jawaban adalah manusia bukan makhluk lainya.
Pandangan saya mengenai akal, Allah memberikan kapasitas akal kepada semua manusia tidak ada yang beda semuanya sama tergantung manusianya dalam mengolah akal tersebut. Proses pengolahan akal inilah yang dapat membedakan tingkat kecerdasan manusia satu dengan manusia lainya. Ibnu Sina seorang ilmuan muslim salah satunya,yang telah banyak mempergunakan akalnya untuk memikirkan dan merenungkan dalam ilmu medis. Thomas Alva Edison Ilmuan berkebangsaan Amerika serikat yang telah banyak menemukan sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh banyak orang, dll.
Mengapa kesehatan akal sangat penting dibanding dengan nikmat dunia dan nikmat sehat.kita juga bisa berandai-andai sebagai berikut. Apa gunanya harta melimpah ruah, sehat jasmani, tetapi akalnya kurang sehat. Tentu hal tersebut juga tidak berguna hartanya yang melimpah dan sehatnya badan dikarenakan tidak dapat memanfaatkan kenikmatan dunianya dan juga kesehatan badanya. Karena yang menyempurnakan seorang manusia adalah akal meskipun secara dhahir badan seorang tersebut mengalami kecacatan.
Misal, ada nama Ratna Indraswati Ibrahim ia adalah salah satu orang yang mengalami cacat fisik, ia tidak bisa berjalan. Melihat kekurangannya tersebut tidak lantas membuatnya putus asa, ia tetap mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan YME. Bentuk rasa syukurnya tersebut ia tuangkan dengan kata-katanya dengan menulis beberapa novel, cerpen dan berbagai tulisan yang telah terbit dan menjadi bagian penting dalam kesusatraan Indonesia.
Karena peran akalah yang sangat urgen maka kita harus banyak mensyukuri karunia besar tersebut. Banyak cara yang bisa kita lakukan sebagai bentuk rasa syukur kita pada allah swt. Seperti dengan berpikir yang positif, tidak meminum minuman keras, tidak mengonsumsi narkoba, dll
Keempat, nikmat iman dan islam. Nikmat yang satu ini berbeda dengan nikmat yang lain. Nikmat ini menempati posisi yang paling tinggi dikarenakan nikmat ini diberikan tidak kepada sembarang orang. Nikmat ini diberikan Allah kepada orang-orang tertentu saja. Nikmat ini juga bisa dikatakan sebagai hidayah (petunjuk) dari allah yang diberikan pada manusia.
Kita tahu banyak agama yang ada di muka bumi ini ada Yahudi, Nasrani, Islam, Hindu, Budha dll.Tetapi hanya Islamlah agama yang diridhai oleh Allah swt. seperti yang telah difirmankan :
(((( ((((((((( ((((( (((( ((((((((((( (
" sesungguhnya agama yang diridhai disisi Allah adalah Islam..."(QS Al- lmran: 19)
Kita patut bersyukur telah menjadi orang yag terpilih yang diberi hidayah oleh Allah untuk memeluk agama yang diridhai-Nya. Setiap agama di dunia ini mempunyai syariat yang berbeda-beda, dalam Islam diajarkan syari'at yang mengatur seluk beluk kehidupan umatnya secara mendetail. Sebagai perbandingan, setiap agama menginginkan pemeluknya hidup tentram,damai dan serba kecukupan. Dalam Islam tidak hanya sebatas keinginan saja tetapi jauh lebih dalam lagi yakni memberikan solusi bagaimana agar terwujud kehidupan yang tentram, damai dan serba kecukupan. Zakat misalnya salah satu solusi yang diajarkan oleh Islam agar tidak terjadi kesenggangan antara si kaya dan si miskin sehingga tercukupi kehidupan si miskin.
Menurut pakar tafsir al-Quran dari Indonesia yaitu M. Qurays Shihab ada tiga cara bersyukur :
a. Syukur dengan hati Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati mengantar manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini juga mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan, dan kasih sayang Ilahi sehingga terlontar dari lidahuya pujian kepada-Nya.
Syukur dengan lidah
Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah sambil memuji-Nya. Al-Quran, seperti telah dikemukakan di atas, mengajarkan agar pujian kepada Allah disampaikan dengan redaksi "al-hamdulillah." Hamd (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji, walaupun ia tidak memberi apa pun baik kepada si pemuji maupun kepada yang lain. Kata "al" pada "al-hamdulillah" oleh pakar-pakar bahasa disebut al lil-istighraq, yakni mengandung arti "keseluruhan". Sehingga kata "al-hamdu" yang ditujukan kepada Allah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima segala pujian adalah Allah Swt., bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya
c. Syukur dengan perbuatan Nabi Daud a.s. beserta putranya Nabi Sulaiman a.s. memperoleh aneka nikmat yang tiada taranya. Kepada mereka sekeluarga Allah berpesan,:
Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai tanda syukur! (QS Saba [34]: 13).
Yang dimaksud dengan bekerja adalah menggunakan nikmat yang diperoleh itu sesuai dengan tujuan penciptaan atau penganugerahannya. Ini berarti, setiap nikmat yang diperoleh menuntut penerimanya agar merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh Allah.
Manfaat bersyukur bukan untuk Tuhan
Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur kembali kepada orang yang bersyukur, sedang Allah Swt. sama sekali tidak memperoleh bahkan tidak membutuhkan sedikit pun dari syukur makhluk-Nya. “Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Mahamulia” (QS An-Naml [27]: 40
Sebagai contoh misalnya, ada seseorang menderita penyakit jantung lalu ia ingin berobat kepada seorang dokter spesialis penyakit jantung yang sudah terkenal di penjuru dunia. Tentunya semua pasien telah percaya pada dokter tersebut. Lalu si dokter memberikan saran dan juga resep pada pasien tersebut. Apakah jika saran dan resep jika di lakukan oleh pasien akan bermanfaat bagi si dokter? Tentu tidak. Yang mendapatkan manfaatnya adalah si pasien tersebut. Itu sebagai analogi bahwa seseorang yang bersyukur kepada Allah tidak akan berguna bagi Allah melainkan kembali kepada hambanya yang bersyukur tersebut.
Agar kita termasuk kategori orang yang selalu bersyukur selayaknya kita bisa berdoa dengan membaca doa dibawah ini :
((((( (((((((((((( (((( (((((((( (((((((((( (((((((( (((((((((( (((((( (((((((( ((((((((( (((((( (((((((( (((((((( ((((((((( ((((((((((((( (((((((((((( ((( ((((((((( ((((((((((((( ((((
."Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".
Komentar
Posting Komentar