Al-Ummu madrasatul ula, ibu adalah madrasah pertama. Maksudnya, madrasah (tempat belajar) yang pertama bagi anak-anaknya. Begitulah maqolah Arab yang sering kita dengar. Dari maqolah ini kita bisa memahami bahwa peran krusial seorang ibu dalam membentuk karakter kepribadian seorang anak menjadi penting adanya. Baik tidaknya seorang anak ketika dewasa nanti tergantung pada madrasah yang ditempati.
Namun yang penting untuk diperhatikan disini ialah, jika seorang 'ibu' menjadi madrasahnya, maka seorang 'ayah' adalah gurunya. Dari sini kita bisa memahami bahwa mendidik seorang anak bukan hanya tugas seorang ibu saja. Melainkan juga tugas seorang ayah. Jadi, keduanya harus saling berkolaborasi menumbuh kembangkan dan mendidik anak secara bersama-sama. Tanggung jawab berdua.
Bahkan dalam konteks demikian, Alquran justru menonjolkan peran seorang ayah dalam mendidik seorang anak. Sebut saja kisah Nabi Ibrahim as yang saling berdialog dengan putranya (Nabi Ismail as) dan kisah Luqman yang menasihati anaknya untuk tidak berbuat syirik. Dari kedua peran tersebut, Alquran menonjolkan peran seorang ayah bukan seorang ibu, dalam mendidik putra-putranya. Berdasarkan pemahaman ini, saya pribadi selalu mengusahakan waktu semaksimal mungkin untuk mendampingi Wafa dalam belajar. Meskipun terkadang badan terasa capek akibat kerja seharian.
Salah satu momen keseruan saat menemani Wafa ialah ketika belajar menulis. Yak, saat ini Wafa telah memasuki usia empat tahun. Artinya mungkin tahun depan sudah masuk di Taman Kanak-kanak (TK) di usianya yang kelima tahun. Maka dari itu perlu persiapan sejak dini, agar nanti dia tidak shock dengan dunia barunya. Mulai saat ini Wafa sering kami ajak membaca, menulis, dan menghitung (calistung). Inilah yang menjadi awal perkenalannya terhadap dunia literasi.
Ada waktu tersendiri bagi saya dengan Wafa. Bakda maghrib menjadi quality time bagi saya dan Wafa. Pada waktu inilah saya memiliki waktu yang longgar untuk belajar dan bermain dengannya.
Saat belajar nulis, saya sedikit terheran. Karena Wafa sudah bisa menuliskan beberapa abjad huruf. Mulai dari A, B, C, D, E, P, O, H, G, T, L, Q, M, L, O, U,dan X. Artinya masih ada beberapa huruf yang belum bisa dituliskan. Saat hendak saya perintah menuliskan huruf 'N' misalnya dia bilang tidak bisa. Ya gapapalah nanti lama kelamaan juga akan bisa. Batin saya.
Saya juga perintahkan untuk menuliskan namanya. Saya dikte satu persatu. "Waf, ayok nulis namane sampean". Saat saya bilang awal hurufnya "W" dia langsung nulis, huruf "M"..wkwk. dia masih belum bisa membedakan antara huruf W dan M. Memang hampir sama sih kedua huruf itu, menurut pandangan Wafa. Namun ketika saya bilang, "kuwalik niku waf..,niku huruf W...hehe". Lalu dia gak kehabisan akal. Dia putar tuh kertasnya, jadi huruf W kan..wkwkwk
Tulungagung, 10-12 November 2024

Semangat menyebarkan ilmu gus 🥳
BalasHapus