Ahad malam, tepat pukul 20.00 WIB agenda bedah buku saya telah dimulai. Bang Woks sebagai moderator membuka diskusi dengan ciamik. Sesuai dengan buku yang mau dibedah, bang Woks mengutarakan bahwa "banyak orang mengenal, bahwa nenek moyang kita seorang pelaut. Tetapi tidak hanya itu saja. Nenek moyang kita juga sebagai penulis". Saya sepakat dengan bang Woks.
Tak kalah menarik sambutan dari Kang Rohman. Dengan gaya bicara yang jelas disertai guyonan yang khas semakin menghangatkan suasana malam itu. Satu hal yang saya catat dalam pengantarnya. Beliau menyebut dan mengkategorikan buku saya ke dalam istilah "ulamalogi". Istilah yang digunakan untuk mereka yang membahas tentang para ulama, meskipun dirinya bukan sebagai seorang ulama. Beliau mencontohkan seorang Martin van Bruinessen, seorang sarjana Belanda yang, misalnya bahas tentang ketokohan Gus Dur.
*Motivasi saya menulis buku Literasi Para Kiai*
Mengawali bedah buku ini, saya menyebut beberapa motovasi saya menulis buku ini, yang sebagian tidak saya publish di kata pengantar buku. Motivasi itu antara lain:
1. Bercita-cita minimal memiliki satu karya tulis dalam hidup. Semwnjak mengenal dunia kuliah, intensitas waktu saya coba arahkan di dunia akademik, membaca salah satunya. Dari pergumulan itu, saya terkadang berpikir dan bertanya-tanya bagaimana caranya sang penulis buku ini koq bisa nulis setebel ini? betapa luas pengetahuan penulis tersebut ya? dan berbagai pertanyaan lain yang ada dipikiran saya. Dari latar belakang itu, saya coba mencari tahu soal dunia literasi.
2. Ingin membuktikan bahwa menulis buku itu mudah. Semenjak ketergabungan saya dengan grup SPK, banyak motivasi yang saya dapat. Komunitas ini mendorong saya untuk terus berproses belajar menulis. Banyak suntikan-suntikan semangat setiap harinya saya dapat. Baik dari Prof. Naim maupun kawan-kawan lain.
Motivasi real itu dapat saya rasakan ketika ada beberapa kawan yang sudah menerbitkan buku solo. Seperti Bang Roni, Mbak Eka Zahra, Mas Fauzi, Bang Woks, dan kawan-kawan lain yang tentunya juga turut menjadi inspirasi bagi saya. Dari sinilah kemudian saya juga ikut terpacu untuk swgera merealisasikan proses penerbitan buku ini.
3. Saya senang baca sejarah. Motivasi ini sengaja tidak saya sebutkan di lembar kata pengantar buku ini. Karena ya memang faktor ini yang menjadi motivasi sekaligus passion saya. Sejak bisa baca tulis, mulai sekolah dasar/MI saya sering-sering baca buku tentang sejarah. Mengapa saya tertarik dengan sejarah? Mungkin sebagian orang berkata, orang yang cerita-cerita atau bahas tentang sejarah bertipe sebagai seorang yang susah move on, dan lain-lain. Memang ada benarnya, tetapi alasan terbesar saya mengkaji sejarah ialah ingin mengambil hikmah atau motivasi dari realita sejarah yang pernah ada. Dari sejarah kita banyak belajar tentang arti hidup. Dari sejarah kita bisa membaca peristiwa-peristiwa yang bisa kita jadikan ibrah dalam kwhidupan kita sekarang. Karena pentingnya sejarah itulah, menurut saya Alquran dari enam ribu ayat lebih, sepertiganya berkisah tentang kisah-kisah atau sejarah orang-orang terdahulu.
Nah, kecintaan saya terhadap sejarah inilah kemudian saya wujudkan dalam berbagai karya tulis, baik esai, jurnal, maupun buku. Dalam beberapa tulisan tersebut, saya banyak bahas tentang tokoh-tokoh besar yang bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi, termasuk dalam buku ini yang mengisahkan 21 kiai Nusantara yang memiliki karya tulis.
4. Memiliki isnad yang jelas. Dalam agama Islam, sanad menjadi suatu hal yang penting dan tidak bisa dipisahkan. Dalam memahami agama, sanad mwnjadi bukti ketersambungan suatu tindak perilaku kita di era kini terhadap perilaku yang diajarkan oleh Nabi saw. Dengan sanad yang jelas, maka segala hal yang kita lakukan di dunia ini ada justifikasinya dari agama.
Nah, bentuk perilaku ini salah satunya tentang dunia literasi. Saya mengkaji para tokoh/kiai karena mereka-mereka yang menjadi warosatul anbiya (pewaris para nabi) sudah pasti teejamin sanadnya yang mutasil pada Nabi saw. Oleh karena itu, berliterasi menjadi juga menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk diterapkan dalam kehidupan dunia.
*Sekilas Tentang Buku Literasi Para Kiai*
Saya menulis buku ini pasca adanya pelatian menulis yang ada di pascasarjana IAIN Tulungagung sekitar akhir tahun 2018 yang diisi oleh Prof. Naim. Tepatnya saya lupa Tapi seingat saya waktu itu bulan Ramadhan. Pada waktu inilah, keimanan menulis saya lagi "yazid". Saya menulis beberapa tema, bahkan mayoritas, saya tulis setelah sahur. Jadi saat itu, setelah selesai makan sahur saya sering pegang HP sambil nunggu buka puasa. Eh, baru saja sahur masak nunggu berbuka, wkwk..
Ndak, saya sambil nunggu adzan subuh. Saya mentarget, setiap kali nulis itu selesai satu tokoh. Namun, jarang sekali dalam satu kali duduk saya bisa rampung. Sehingga saya beri bataa minimal penulisan. Saya mentarget satu hari, satu tokoh sudah jadi. Fix, beberapa tokoh yanb saya bahas sudah jadi.
Penulisan buku saya awali di tahun 2019. Karena keimanan menulis saya juga mengalami pasang surut, maka penulisan pernah terhenti selama beberapa minggu sehingga calon buku belum bisa rampung. Penulisan kemudian saya lanjutkan ke tahun-tahun berikutnya, 2020, 2021 hingga pada akhirnya selesai juga ditahun terakhir ini. Setelah naakah siap kirim ke penerbit, saya sempat meminta arahan penerbitan pada prof Naim. Beliau menyarankan dikirim ke penerbit Quanta. Setelah saya telusuri, ternyata ini penerbit mayor. Saya coba browsing-browsing dan cari info terkait penerbit ini. Setelah saya pahami alurnya, saya pesimis dengan naskah yang sudah jadi. Karena naskah tidak memenuhi beberapa syarat yang ada dipenerbit itu, salah satunya maaih kurang dari batas minimal ketebalan halaman. Setelah saya lihat, naskah saya cuma sekitar 70 an halaman. Sementara syarat minimal yang diajukan 100 halaman dengan format spasi normal (2-2-2-2) kertas A4.
Selain itu alur proses yang cukup lama. Minimal tiga bulan baru dapat kabar, ditolak atau diterima. Dengan beberapa pertimbangan ini, saya akhirnya mencari penerbit lain yang prosesnya tidak terlalu ribet dan proses yang tidak begitu lama.
Ketemulah penerbit Guepedia. Sebuah penerbitan online yanh berpusat di kota Bogor. Penerbit ini menawarkan beberapa benefit yang didapatkan. Dengan mengirimkan naskah ini ke penerbit, penulis akan mendapatkan desain cover dan mendapat ISBN, serta semua itu didapat dengan proses yang cepat. Semua itu didapat secara cuma-cuma alias gratis. Dengan pertimbangan inilah kiranya saya tertarik untuk menerbitkannya.
Tulungagung, 19-21 Maret 2023

Komentar
Posting Komentar