Sekelumit Tentang Kopdar 8 SPK

 

Sabtu 26 Februari 2022 kami keluarga SPK mengadakan kopdar ke 8 dengan mengangkat tema "Alih Wahana Novel dan Pemasarannya". Pelaksanaan acara dilaksanakan di Universitas NU Sidoarjo, Jawa Timur. Kopdar kali ini merupakan kopdar yang pertama sejak pandemi covid 19 melanda. Kopdar yang selama pandemi diartikan sebagai 'kopi daring' karena memang acara tersebut hanya dilakukan dengan daring, via zoom. Kali ini kopdar kembali kepada makna yang sesungguhnya, yakni 'kopi darat'.


Kopdar SPK dilakukan setiap enam bulan sekali yang dilakukan di berbagai kota secara bergantian. Dan di setiap agenda tersebut diisi dengan seminar litetasi nasional. Tentu saja pada acara ini dihadirkan pemateri-pemateri beken dengan skala nasional bahkan internasional.


Kopdar ke 8 di Sidoarjo ini merupakan kopdar pertama saya secara langsung. Kopdar sebelumnya yang pernah saya ikuti secara daring yang saat itu menghadirkan Gus Ulil Abshar Abdala sebagai pematerinya. Pada kopdar ke 8 ini dihadiri dua pemateri yang juga tak kalah keren, mbak Ir. Kirana Kejora dan Pak Dr. Shoim Anwar. Kedua pemateri ini ahli sastra Nusantara yang namanya malang melintang dalam kesusastraan.


Kopdar SPK diselenggarakan dengan tujuan untuk mereview kinerja, perkembangan grup ini yang berjalan enam bulan yang telah berlalu. Selain itu, kopdar menjadi sarana 'ngeces' batre agar lebih semangat untuk mentradisikan menulis. Ada banyak ilmu dan pengetahuan yang saya dapat ketika mengikuti kopdar ini, tentunya dalam bidang pengetahuan literasi.


Salah satunya datang dari pak Tirto, kepala dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Sidoarjo. Pada kopdar itu, pak Tirto memberi dua sambutan. Pertama beliau mewakili pak rektor UNUSIDA yang berhalangan hadir, dan yang kedua sambutan beliau sebagai pemantik jalannya diskusi.


Pada salah satu sambutannya, saya berhasil mencatatat pengelompokan sebagai seorang penulis yang bersinergi dengan tujuan menulis yaitu: Pertama,  media katarsis. Menurut beliau menulis menjadi wadah katarsis. Dimana pada tingkatan ini penulis menjadikan tulisannya sebagai media mengabadikan kehidupan. Kedua, media eksistensis. Menurut beliau tujuan dari menulis ialah sebagai eksistensi diri. Jika seseorang ingin diketahui eksistensinya di muka bumi ini, menulis menjadi salah satu sarananya.Seseorang yang menulis, menulis apapun itu, buku, esay, artikel bahkan menulis di story wa atau fb sebenarnya ia ingin ekaiatensi dirinya diakui oleh yang lainya.Dengan ini, menulis menjadi media yang tidak rumit untuk dilakukan.  Ketiga, media berbagi. Tidak dapat dipungkiri, media tulis sejak dahulu menjadi salah satu kunci penting tersampaikannya sebuah informasi. Power yang terkandung dalam tulisan dapat menembus ruang dan waktu. Sehingga informasi-informasi dapat tersalurkan dengan baik. Tidak terkecuali di era sekarang. Media tulis menjadi 'sumber utama' dalam berbagai media sosial. Melalui media tulis inilah para penulis berbagi informasi yang tujuan salah satunya untuk menginspirasi, ya menginspirasi banyak orang.


Itulah ketiga kelompok penulis, kita sebagai penulis dapat meraba-raba termasuk pada bagian mana kita ini. Selanjutnya kita bisa mengintropeksi diri, dengan meningkatkan skill atau kemampuan untuk menulis.

Demikian sekelumit kisah yang dapat  saya tampilkan dari kopdar 8 SPK. Tentu ada banyak ilmu dan informasi yang belum bisa saya tulis sampai saat ini. Semoga kesempatan waktu dapat menuliskan dan berbagi kepada kawan-kawan semua. 


Tulungagung, 26-27 Februari 2022

Komentar

Posting Komentar