oleh: Thoriqul Aziz
Dalam bukunya kang Jalal yang berjudul "Halaman Akhir" bagian 1, saya mendapati pelajaran berharga. Buku hadiah dari Pak Nasrullah, selaku penyunting buku tersebut sangat bermanfaat bagi saya. Trimakasih pak Nasrul, saya dapat memgambil salah satu pelajaran dari buku itu.
Pelajaran yang saya dapat disini, sesuai dengan judul di atas. Benar pengalaman sufistik Saqiq al-Balkhi.
Kisah itu, meski berada di bukunya Kang Jalal, cerita tersebut dikisahkan oleh Dr. Kholid al-Walid, M.Ag ketua Sekolah Tinggi Filsafat Islam, Sadra Jakarta yang menulis prolog buku tersebut.
Dalam prolog itu, pada bagian akhir beliau mengisahkah laku sufisme Saqiq. Ia (Saqiq) pernah ditanya bagaimana ia bisa menjani laku sufistik. Saqiq menjawab, "pada mulanya saya adalah seorang saudagar, yang sering beprgian ke berbagai daerah, mengais rizki kesana kemari".
"Pada suatu hari, ketika di perjalanan yang berada di tengah-tengah padang pasir, ada fenomena yang menarik perhatianku. Saya berhenti karena ada seekor burung yang sayapnya patah. Saya mengamati burung tersebut bahwa tidak akan lama lagi burung tersebut akan mati. Akan tetapi, fenomena aneh datang. Ada burung lain yang menjatuhkan buah-buahan didekat burung yang tak mampu teebang tadi. Hingga akhirnya, burung tersebut bisa makan dengan kenyang dan dapat menyembuhkan luka. Dan akhirnya burung tersebut bisa terbang kembali".
Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi Saqiq, karena ia berargumen bahwasanya burung yang sayapnya patah tadi tetap dijamin rizkinya oleh Allah swt Dari sini ia berkesimpulan, bahwa untuk 'sekedar' hidup tidak perlu susah payah kesana kemari untuk mencari rizki.
Peristiwa itulah yang menjadikan Saqiq beralih ke jalan sufi.
Namun, suatu ketika ia pernah ditanya gurunya perihal pilihannya tersebut. Lalu ia menceritakan peristiwa sebagaimana di atas. Mendengar cerita itu, sang guru langsung menanggapi dengan setengah menghardik. "Mengapa engkau tidak tidak memilih burung yang sehat, dan bisa memberikan manfaat pada yang lain?". Melalui perkataan guru ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa menjadi seorang sufi tidak harus dengan hanya 'pasrah' saja, melainkan diperlukan usaha lahir dan batin untuk mencapai ridha-Nya.
Tulungagung-Kediri, 24-25 Desember 2021
Komentar
Posting Komentar