Oleh: Thoriqul Aziz
Setiap hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun yang silih berganti dengan tahun setiap manusia mengalami dinamika hidup yang berbeda-beda. Roda kehidupan selalu berputar, terkadang kita berada pada posisi di atas terkadang pula berada di bawah. Terkadang hati bahagia, senang dengan bergantinya waktu hati berubah menjadi sedih, tertekan dan lain sebagainya. Ini merupakan hal yang wajar. Karena menurut sementara pakar, semenjak dalam kandungan manusia telah memiliki fitrah tersebut. Alquran juga menggambarkan dalam Qs. al-Balad/90: 4) laqad khalaqna al-insana fi kabad/Semua manusia dalam kesulitan dan susah payah (Qs. al Balad/90: 4).
Pada saat hati dalam keadaan bahagia, tentu tidak menjadi problem dalam hidupnya. Sehingga hari demi hari dijalani dengan rasa percaya diri dan hari-hari terasa cepat berganti. Namun lain halnya jika keadaan hati dirundung dalam duka dan lara. Kesedihan yang dialami berimbas terhadap dinamika perjalanan hidup seseorang. Kerja dan aktifitas-aktifitas keseharian dijalani dengan tidak nyaman. Dalam keadaan demikian, hati terasa berat dalam menjalani hidup, sikap pesimis selalu melekat pada dirinya, dan hari demi hari menjadi terasa berat untuk dijalani. Pada kondisi inilah tidak jarang manusia mengeluh.
Dalam pandangan manusia, orang yang mengeluh dicirikan sebagai seorang yang lemah dan pesimis dalam menjalani hidup. Biasannya mereka yang mengeluh mencoba mencari 'obat penenang' pada orang-orang disekitarnya. Hal ini suatu yang wajar, ini merupakan sikap manusiawi. Namun yang perlu digarisbawahi, dalam mengungkapkan keluhan tidak boleh berlebih-lebihan. Mengeluhlah dengan sikap sewajarnya, agar juga tidak memberatkan orang yang diajak curhat. Jika sikap tersebut berlebihan, selain memberatkan orang yang dicurhati, juga tidak baik dalam pandangan agama.
Dalam pandangan agama, mengeluh diperbolehkan, asalkan tempat untuk mengeluh hanya pada-Nya. Mengeluh, Bukan berarti tanda pesimis dalam menjalani hidup. Akan tetapi dapat bernilai positif/optimis dalam menjalani hidup. Jika keluhan tersebut dicurhatkan pada tempatnya, yakni pada Allah swt. Dengan begitu, orang yang demikian dapat digolongkan dalam kondisi orang yang beriman. Bukankah iman adalah pondasi dalam beragama. Oleh sebab itulah mengeluh pada tempat yang semestinya menjadi bernilai positif.
Bukankah beberapa nabi, yang merupakan juga seorang manusia, pernah mengalami hal serupa (mengeluh), sebagaimana yang diabadikan dalam Alquran. Kisah nabi Ayyub yang terekam dalam Qs. Shad/38: 41 "Ingatlah hamba kami, Ayyub, ketika dia menyeru Tuhannya (mengadu) "sesungguhnya aku diganggu syetan dengan kepayahan dan kesusahan". Begitu pula dengan Nabi Ya'kub yang terabadikn dalam Qs. Yusuf/12: 86 "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahanku dan kesedihanku". Tak terkecuali juga dengan Nabi Muhammad saw yang mengeluh pada Allah atas cobaan yang dideritanya sewaktu berdakwah dalam menghadapi kaumnya. "Wahai Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan aku? kepada musuh yang selalu mengintaiku, atau kepada teman yang patah-sayap memghadapiku? Akan tetapi, selama engkau tidak murka kepadaku, aku sama sekali tidak peduli". Demikianlah kisah yang dikutip oleh M, Quraish Shihab dalam bukunya, Secercah Cahaya Ilahi.
keluhan dalam hidup pasti ada, karena manusia didunia ini pasti mengalami ujian dalam hidup. Hidup itu ibarat berlayar di kapal yang sedang berjalan di tengah lautan. Ketika kapal dapat lolos dari hantaman ombak besar, pada kondisi lain akan dinanti dengan ikan-ikan buas, begitu seteruanya. Ujian dan cobaan hidup akan terus ada. Hanya saja bagaimana cara kita memandang dan menyikapinya. Pepatah mengatakan "berakit-rakit kehulu, berenang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Pepatah tersebut selaras sebagaimana yang dinyatakan dalam surat al-Insyirah Fa inna ma'a al-usri yusra, inna ma'a al-usri yusra (Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kemudahan pasti ada kemudahan)". Begitu ungkapan ini diulang sebanyak dua kali. Menurut pemahaman Quraish Shihab, redaksi usri yang terulang dua kali merupakan bentuk definitip, sementara lawan redaksi itu, yusran ialah indenfinitip.
Oleh karena itu menurut sementara pakar, sebgaimana yng dikutip Quraish Shihab, mengatakan bahwa redaksi yang sifatnya definitip memiliki makna satu, meskioun redaksinya diulang dua kali. Sehingga redaksi pertama tidak berbeda dengan redaksi yang kedua. Berbeda halnya dengan redaksi yang sifatnya indenfinitip, yang memiliki makna berbeda. Dalam redaksi tersebut diulang dua kali sehingga dua redaksi tersebut mempunyai makna yang berbeda pula. Dari pemahaman inilah ia menyimpulkan bahwa setiap ada kesulitan, dalam waktu yang bersamaan akan diberikan dua kemudahan.
Ayat ini merupakan janji Allah pada makhkuknya. Sementara Allah tidak pernah ingkar janji. Dengan demikian, sikap mengeluh sebagaimana yang penulis singgung di atas harus disadari dengan ayat ini. Kesulitan-kesulitan yang ada jika diiringi dengan usaha dan "mengeluhkan" hanya pada Allah, niscaya jalan-Nya akan terbuka lebar dan selanjutnya akan dirasakan oleh sang hamba akan sifat rahman dan rahim-Nya.
Kediri, 20 November 2020
Motivasi untuk saya
BalasHapusnggih..klo jg bu
BalasHapus